Ekonomi

Harga Minyak Melonjak Tajam, Prediksi Tembus $150 Karena Ketegangan Iran‑AS dan Krisis Hormuz

×

Harga Minyak Melonjak Tajam, Prediksi Tembus $150 Karena Ketegangan Iran‑AS dan Krisis Hormuz

Share this article
Harga Minyak Melonjak Tajam, Prediksi Tembus $150 Karena Ketegangan Iran‑AS dan Krisis Hormuz
Harga Minyak Melonjak Tajam, Prediksi Tembus $150 Karena Ketegangan Iran‑AS dan Krisis Hormuz

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 29 April 2026 | Pasar energi global kembali berada dalam tekanan ekstrem pada akhir April 2026. Harga minyak mentah menembus level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh rangkaian gejolak geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, serta ketidakpastian di dalam organisasi produsen minyak dunia.

Menurut data perdagangan pada Selasa 28 April, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) mencatat kenaikan lebih dari 3 persen, mencapai US$ 100,11 per barel pada pukul 08.35 ET. Simultan itu, minyak mentah Brent menembus US$ 111,67 per barel, naik 3,2 persen. Lonjakan ini bertepatan dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengekspresikan ketidakpuasan terhadap proposal Iran untuk membuka Selat Hormuz, jalur penyeluruhan strategis yang mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak per hari.

📖 Baca juga:
Harga Emas Turun Tajam pada 28 April 2026, Investor Diminta Waspada pada Negosiasi Geopolitik dan Kebijakan Suku Bunga

Trump menegaskan bahwa proposal Tehran—yang mengaitkan pembukaan selat dengan pencabutan blokade angkatan laut Amerika serta penundaan pembahasan program nuklir—tidak memenuhi standar keamanan dan kepentingan Amerika. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menambahkan bahwa kontrol Iran atas selat tidak dapat dianggap sebagai normalisasi, melainkan sebagai upaya memonopoli jalur perairan internasional.

Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz secara langsung memengaruhi pasokan global. Analis pasar, Andy Lipow dari Lipow Oil Associates, memperkirakan bahwa pemulihan kondisi normal dapat memakan waktu empat hingga enam bulan, mengingat kebutuhan pembersihan ranjau, pengurangan kemacetan kapal tanker, serta pemulihan produksi dan penyulingan di kawasan tersebut. Selama periode gangguan, harga diprediksi akan tetap berada pada level tinggi, bahkan dapat meningkat lebih jauh bila konflik berlarut.

Sementara itu, spekulasi lain menambah tekanan pada pasar. Berbagai laporan mengindikasikan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) berencana meninggalkan OPEC, sebuah langkah yang dapat memperlemah koordinasi produksi minyak di antara anggota dan menimbulkan fluktuasi pasokan. Meskipun rincian resmi belum tersedia, pasar sudah merespon dengan mengangkat harga sebagai antisipasi potensi penurunan output OPEC.

📖 Baca juga:
Restitusi Pajak Diperketat: Prioritas Wajib Pajak Patuh, Namun Menimbulkan Kekhawatiran di Sektor Sawit dan Tambang

Analisis tambahan dari lembaga keuangan internasional menegaskan skenario paling ekstrem. Citigroup memperkirakan bahwa bila konflik Iran‑AS tidak menemukan titik temu, harga minyak dunia dapat menembus US$ 150 per barel. Prediksi ini didukung oleh data harga Brent yang pada perdagangan Selasa 28 April menutup pada US$ 108,23 per barel, sementara WTI naik sekitar 2 persen menjadi US$ 96,37 per barel. Warren Patterson, kepala strategi komoditas di ING, menyatakan bahwa kegagalan negosiasi damai menghapus harapan pemulihan aliran energi melalui Selat Hormuz dalam waktu dekat.

Di sisi lain, Iran menghadapi dilema tersendiri. Blokade laut Amerika Serikat yang diberlakukan sejak 13 April menyebabkan ekspor minyak Iran menyusut drastis, dari rata-rata 2,1 juta barel per hari pada awal bulan menjadi hanya 567.000 barel per hari pada periode 14‑23 April. Stok minyak mentah di dalam negeri menumpuk, memaksa pemerintah Tehran mengaktifkan kembali fasilitas penyimpanan lama yang disebut “junk storage” serta menumpuk minyak di kapal tanker menganggur dan kontainer improvisasi. Jika kapasitas penyimpanan penuh tercapai, Iran berisiko harus menghentikan produksi, menambah tekanan pada pasar global.

Upaya mitigasi Iran termasuk pengalihan sebagian produksi melalui jalur kereta api ke pelabuhan China, meski metode ini lebih mahal dan memakan waktu. Sementara itu, ketidakpastian di wilayah Timur Tengah memaksa investor dan pedagang energi menyesuaikan strategi, meningkatkan eksposur pada instrumen derivatif dan menahan penjualan fisik untuk mengantisipasi potensi kelangkaan pasokan.

📖 Baca juga:
Intip Daftar Saham Konstituen MSCI Indonesia: Dari BBCA, AMMN hingga GOTO, Apa yang Perlu Investor Tahu?

Secara keseluruhan, kombinasi ketegangan geopolitik, gangguan jalur distribusi utama, dan perubahan kebijakan organisasi produsen minyak menciptakan lingkungan pasar yang sangat volatil. Para analis menekankan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat serta keputusan OPEC akan menjadi faktor penentu utama dalam pergerakan harga minyak ke depan. Selama konflik berlanjut, konsumen dan produsen harus bersiap menghadapi harga yang lebih tinggi serta ketidakpastian pasokan yang terus berlanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *