Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 01 Mei 2026 | PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), perusahaan milik konglomerat Prajogo Pangestu, mencatat pertumbuhan pendapatan yang signifikan pada kuartal pertama 2026. Total pendapatan mencapai USD 41,2 juta atau setara Rp712,7 miliar, naik 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini didorong oleh diversifikasi layanan logistik, energi surya, serta penambahan aset maritim dan darat.
Namun, di balik lonjakan pendapatan, laba bersih mengalami penurunan tajam. Laba bersih tercatat USD 9,5 juta (Rp164,3 miliar), turun 68‑70 persen secara tahunan dibandingkan laba USD 30 juta pada Q1 2025. Penurunan ini terutama dipicu oleh peningkatan beban pokok penjualan yang melompat lebih dari 22 persen serta biaya penyusutan dan amortisasi yang lebih tinggi seiring ekspansi aset.
Direktur CDI Group, Jonathan Kandinata, menjelaskan bahwa meskipun profitabilitas menurun, adjusted EBITDA berhasil melesat 125,4 persen menjadi USD 14,1 juta. Peningkatan EBITDA berasal dari kontribusi inisiatif strategis, termasuk penambahan kapal tanker kimia Boreas berkapasitas 9.000 DWT yang dikembangkan bersama Fukuoka Shipbuilding Co. Ltd., Jepang. Boreas dijadwalkan beroperasi tahun ini dan diharapkan memperluas jangkauan pasar CDIA ke Asia dan Eropa.
Ekspansi tidak terbatas pada sektor maritim. Pada segmen energi, CDIA telah mengoperasikan kapasitas tenaga surya sebesar 11 MWp dengan tambahan sekitar 5 MWp yang sedang dibangun dan ditargetkan beroperasi pada akhir 2026. Di segmen air, perusahaan meningkatkan kapasitas WTP Krenceng sebesar 600 liter per detik serta fasilitas pengolahan limbah di Cilegon dengan kapasitas 1.200 m³ per hari.
Selain itu, pembangunan infrastruktur pelabuhan dan penyimpanan yang didanai melalui IPO kini mencapai sekitar 60 persen penyelesaian. Proyek mencakup tangki penyimpanan, pipa etilena, serta fasilitas pendukung lainnya. Sebuah tangki bitumen berkapasitas 12.000 m³ di RPU juga berada dalam tahap akhir konstruksi dan dijadwalkan rampung tahun ini.
Keuangan CDIA tetap kuat. Likuiditas tercatat USD 954,2 juta, sedangkan rasio utang terhadap kapitalisasi berada pada level 39 persen. Total aset pada 31 Maret 2026 mencapai USD 1,90 miliar, naik 9,05 persen dibandingkan akhir 2025. Struktur modal yang sehat memberi fleksibilitas untuk menangkap peluang pertumbuhan sekaligus menjaga ketahanan di tengah volatilitas pasar.
Strategi ekspansi armada juga menjadi fokus utama. CDIA menargetkan penambahan hingga 20 kapal di segmen gas, kimia, dan dry bulk hingga akhir 2026. Langkah ini diharapkan memenuhi permintaan baik dari captive market internal maupun pihak ketiga, sekaligus memanfaatkan kenaikan tarif spot kapal yang terjadi dalam kondisi pasar logistik yang menguntungkan.
Berikut rangkuman kunci kinerja Q1 2026 CDIA:
| Indikator | Q1 2026 | YoY |
|---|---|---|
| Pendapatan | USD 41,2 juta (Rp712,7 miliar) | +19 % |
| Laba Bersih | USD 9,5 juta (Rp164,3 miliar) | -68 % |
| Adjusted EBITDA | USD 14,1 juta | +125,4 % |
| Likuiditas | USD 954,2 juta | – |
| Rasio Utang/Kapitalisasi | 39 % | – |
Dengan basis pendapatan berulang yang stabil, tingkat utilisasi aset tinggi, serta diversifikasi lini bisnis, CDIA tetap optimis dapat mempertahankan ketahanan bisnis meski profitabilitas jangka pendek tertekan. Model infrastruktur terintegrasi dianggap mampu menghasilkan aliran kas yang berkelanjutan dan membuka peluang pertumbuhan di berbagai kondisi pasar.
Ke depan, fokus CDIA akan tetap pada pelaksanaan proyek energi surya, ekspansi armada maritim, serta penyelesaian infrastruktur pelabuhan dan penyimpanan. Jika strategi ini berjalan sesuai rencana, perusahaan diproyeksikan dapat mengembalikan profitabilitas ke level yang lebih tinggi pada kuartal berikutnya.











