Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 14 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, di tengah penguatan dollar AS secara global. Pada pukul 12.12 WIB, rupiah berada di level Rp 17.518 per dollar AS atau melemah sekitar 0,24 persen dibandingkan penutupan perdagangan Rabu yang berada di posisi Rp 17.476 per dollar AS.
Pelemahan rupiah terjadi seiring tren mayoritas mata uang Asia yang turut tertekan akibat penguatan dollar AS. Di kawasan Asia, won Korea Selatan tercatat melemah sekitar 0,2 persen ke level 1.492,9 per dollar AS. Sementara itu, ringgit Malaysia dan dollar Taiwan cenderung bergerak stabil.
Di sisi lain, peso Filipina juga mengalami pelemahan sekitar 0,3 persen dan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang tahun ini setelah terdepresiasi sekitar 4,4 persen sejak awal 2026. Adapun rupee India diperdagangkan mendekati rekor terendah sepanjang masa di level 95,795 per dollar AS.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang di kawasan Asia masih cukup besar di tengah kuatnya posisi dollar AS di pasar global. Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor domestik dibandingkan faktor global.
Menurutnya, sekitar 80 persen tekanan terhadap rupiah berasal dari persoalan dalam negeri. Hal itu terlihat dari tren pelemahan rupiah terhadap sebagian besar mata uang dunia dalam enam bulan terakhir. Rupiah melemah terhadap sekitar 85 persen mata uang dunia dan melemah terhadap mata uang negara tetangga seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, baht Thailand, dong Vietnam, dan peso Filipina.
Salah satu penyebab utama pelemahan rupiah berasal dari tantangan struktural pada neraca pembayaran atau balance of payments Indonesia. Surplus perdagangan berpotensi terus menurun akibat melemahnya ekspor karena turunnya harga komoditas dan melambatnya permintaan global seiring perlambatan ekonomi dunia.
Dalam beberapa bulan ke depan, harga barang diperkirakan akan meningkat. Hal ini disebabkan oleh pelemahan rupiah yang dapat meningkatkan biaya impor dan berdampak pada harga barang-barang yang diimpor. Oleh karena itu, masyarakat perlu waspada dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan kenaikan harga barang.











