Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 31 Mei 2026 | Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat, sehingga rupiah melemah hingga ke level terendah. Bahkan nilai tukar negeri Paman Sam ini diperkirakan bisa tembus di atas Rp 18.000/US$ pekan depan. Sementara posisi terakhir per Sabtu kemarin berada di level Rp 17.881/US$. Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menjelaskan terdapat beberapa ‘jalur’ atau sektor bagaimana perubahan nilai tukar ini bisa memberikan dampak ke perekonomian dalam negeri.
Pertama dari sektor perdagangan, di mana pelemahan rupiah ini akan mempengaruhi harga produk impor. Dengan pelemahan rupiah, otomatis harga barang atau bahan baku produk impor akan naik cukup signifikan. Kondisi ini berpotensi mengerek harga barang menjadi semakin mahal dan menciptakan inflasi.
Lebih lanjut, ia mengatakan kenaikan nilai tukar dolar ini sudah memaksa Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga yang cukup tinggi. Terkait BI menaikkan suku bunga di Indonesia hingga 50 basis poin hingga kini berada di angka 5,25%.
Apa saja yang perlu dihindari kelas menengah saat dolar AS terus-terusan tekur rupiah? Karena pelemahan nilai mata uang Garuda, tentu harga barang impor menjadi lebih tinggi dari biasanya. Dengan mengurangi belanja produk atau barang-barang impor, yang bersangkutan dapat menghemat lebih banyak anggaran.
Seiring peningkatan suku bunga BI imbas pelemahan rupiah, besaran bunga cicilan diperkirakan ikut mengalami kenaikan. Untuk itu lebih baik untuk mencari pinjaman atau kredit dengan bunga tetap.
Menurut Tauhid Ahmad, untuk menghindari dampak pelemahan rupiah, kelas menengah perlu mengurangi belanja produk impor dan mencari pinjaman dengan bunga tetap. Dengan demikian, kelas menengah dapat menghemat lebih banyak anggaran dan menghindari dampak negatif dari pelemahan rupiah.
Kesimpulan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS dapat memberikan dampak negatif terhadap perekonomian dan kelas menengah. Oleh karena itu, perlu diambil langkah-langkah untuk menghindari dampak tersebut, seperti mengurangi belanja produk impor dan mencari pinjaman dengan bunga tetap.









