Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 14 Juli 2026 | Rupiah Indonesia akhir-akhir ini mengalami penurunan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat. Pada Senin, 13 Juli 2026, rupiah mencapai Rp 18.136 per dolar AS, yang merupakan yang terlemah dalam sejarah mata uang Indonesia atas dolar AS.
Menurut pengamat ekonomi Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, ia menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang serta potensi bank sentral Amerika Serikat yang kembali menaikkan suku bunga acuan.
Selain itu, kondisi dalam negeri juga turut menekan nilai tukar rupiah. Proyeksi defisit fiskal Indonesia pada 2026 naik 2,85% Produk Domestik Bruto (PDB) dari sebelumnya 2,68% yang disebabkan ada tambahan anggaran subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp 132 triliun.
S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB jangka panjang dan A-2 jangka pendek dengan outlook stabil. Namun, analis menilai dampak ke pasar modal dan rupiah terbatas karena investor fokus pada arus modal, tekanan eksternal, serta konsistensi kebijakan domestik yang tetap jadi perhatian utama.
S&P Global Ratings juga memprediksi rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,9% pada 2026-2029. Prediksi pertumbuhan ekonomi itu seiring kinerja ekonomi dapat melambat pada kuartal-kuartal berikutnya karena ketidakpastian eksternal yang berkelanjutan dan suku bunga yang lebih tinggi.
Kesimpulan dari semua ini adalah bahwa rupiah Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Faktor eksternal dan domestik yang kompleks mempengaruhi nilai tukar rupiah, dan perlu upaya serius dari pemerintah untuk meningkatkan kinerja ekonomi dan mempertahankan kepercayaan investor.











