Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 08 Agustus 2026 | Gunung Piramid Bondowoso kembali menjadi sorotan setelah terjadi tragedi yang merenggut nyawa pendaki. Pada 4 Agustus 2026, tim pencari menemukan jasad Maliya Finda (51) dan Irfan Nasrul Laili (35) di jalur pendakian Gunung Piramid. Keduanya dilaporkan hilang sejak Ahad pagi (2/8/2026) saat mendaki gunung tersebut.
Penemuan jasad keduanya berkat upaya tim gabungan yang terdiri dari relawan Bondowoso dan Wanadri. Fathorrahman Hidayah, yang akrab dipanggil Jangkar, didaulat menjadi On Scene Coordinator (OSC) pada misi search and rescue (SAR) mandiri tersebut. Tim SAR berisikan komunitas pencinta alam Bondowoso dan pemandu gunung berpengalaman.
Gunung Piramid Bondowoso dikenal memiliki medan pendakian yang ekstrem dan menantang. Jalur pendakiannya sempit, curam, dan berada di atas punggungan terbuka, membuat gunung ini berkali-kali menjadi sorotan setelah terjadi sejumlah kecelakaan pendakian.
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa aktivitas pendakian di kawasan dengan karakter medan ekstrem membutuhkan perhatian serius, terutama dari sisi keselamatan, pengawasan, dan tata kelola. Penutupan jalur pendakian bukanlah solusi yang efektif, karena pengawasan di lapangan tetap menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Untuk itu, perlu dipertimbangkan pendekatan lain berupa penataan, pengawasan, peningkatan kompetensi pemandu, serta penguatan infrastruktur keselamatan apabila pada masa mendatang terdapat kebijakan untuk membuka dan mengelola jalur tersebut secara resmi.
Maliya Finda, salah satu korban, dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Babat, Lamongan, setelah dilaksanakan salat jenazah dan doa bersama. Ia dikenang sebagai pribadi yang ramah sekaligus memiliki kecintaan besar terhadap alam bebas.
Kesimpulan dari tragedi ini adalah pentingnya peningkatan kesadaran dan kesiapan para pendaki sebelum melakukan pendakian, serta pentingnya pengelolaan keselamatan dan pengawasan yang efektif di jalur pendakian gunung.











