Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 09 Mei 2026 | Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera terus mempercepat revitalisasi fasilitas pendidikan terdampak bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Total fasilitas pendidikan terdampak di tiga provinsi mencapai 4.922 satuan pendidikan.
Meski menghadapi dampak kerusakan cukup besar, seluruh sekolah terdampak dipastikan tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan capaian 100 persen, baik di sekolah asal, kelas darurat, tenda pendidikan, maupun lokasi belajar sementara. Sebanyak 3.002 sekolah telah melaksanakan Perjanjian Kerja Sama (PKS) revitalisasi satuan pendidikan dengan total anggaran mencapai Rp2,86 triliun.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.792 sekolah telah menerima penyaluran tahap pertama dengan total dana tersalurkan mencapai Rp1,9 triliun. Di Aceh, revitalisasi telah berjalan di 2.012 sekolah dengan total anggaran Rp1,98 triliun. Sementara di Sumatera Utara mencapai 658 sekolah dengan anggaran Rp600,9 miliar, dan di Sumatera Barat sebanyak 332 sekolah dengan dukungan anggaran Rp281,7 miliar.
Juru Bicara Satgas PRR Amran mengatakan percepatan revitalisasi sekolah terus didorong karena pendidikan menjadi salah satu sektor prioritas dalam pemulihan pascabencana. "Fasilitas pendidikan terdampak memang cukup besar. Karena itu proses pembangunan dan rehabilitasi terus didorong agar penyelesaiannya bisa berlangsung cepat," ujar Amran.
Di samping upaya revitalisasi sekolah, Satgas PRR juga membangun hunian sementara (huntara) untuk para penyintas bencana. Huntara ini tidak hanya menjadi tempat berteduh bagi para penyintas, tetapi juga ruang untuk mulai menata kembali kehidupan yang sempat terhenti akibat bencana.
Salah satu penyintas, Reni, memanfaatkan huntara sebagai tempat untuk memulai usaha makanan kecil. Dengan modal awal Rp200 ribu, Reni memulai usahanya secara perlahan dan kini sudah memiliki warung kecil yang ramai didatangi warga sekitar. Keberadaan huntara memberi ruang aman bagi keluarganya untuk kembali menyusun kehidupan setelah kehilangan rumah akibat bencana.
Semangat serupa juga dirasakan Siti Asyiah, warga Desa Sekumur, Kelurahan Sekerak, Aceh Tamiang, Aceh, yang sempat tinggal selama lima bulan di tenda pengungsian sebelum akhirnya menempati huntara. Ia mengaku kondisi tempat tinggal sementara yang lebih layak membuat keluarganya perlahan dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.
Dengan upaya-upaya tersebut, Satgas PRR berharap para penyintas bencana Sumatera dapat segera kembali ke kehidupan normal dan melanjutkan aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman. Dalam beberapa waktu ke depan, diharapkan huntara yang belum selesai dapat segera rampung, dan huntap juga cepat dibangun untuk meminimalkan dampak bencana bagi masyarakat.











