Ekonomi

Rupiah Indonesia Melemah, Cadangan Devisa Turun ke Rp2.514 Triliun

×

Rupiah Indonesia Melemah, Cadangan Devisa Turun ke Rp2.514 Triliun

Share this article
Rupiah Indonesia Melemah, Cadangan Devisa Turun ke Rp2.514 Triliun
Rupiah Indonesia Melemah, Cadangan Devisa Turun ke Rp2.514 Triliun

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 09 Mei 2026 | Rupiah Indonesia telah melemah dalam beberapa waktu terakhir, bahkan sempat menembus level Rp17.400 per dolar AS. Penurunan nilai tukar rupiah ini disebabkan oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan obligasi global pemerintah, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa pada akhir April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.514,6 triliun dengan kurs Rp17.200 per dolar AS. Posisi cadangan devisa tercatat turun 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp34,4 triliun dari sebelumnya di posisi akhir Maret 2026.

📖 Baca juga:
Bunga Kredit Bank Terlambat Turun Meski BI Rate Dipangkas, Apa Penyebabnya?

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa penurunan nilai cadangan devisa disebabkan oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan obligasi global pemerintah, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir mencapai level terendahnya, bahkan sempat menembus Rp17.400 per dolar AS. Oleh karena itu, Bank Indonesia memanfaatkan cadangan devisa untuk menstabilkan kembali rupiah.

📖 Baca juga:
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Mencapai 5,61%: Pemerintah Percepat Belanja dan Program MBG Dorong Momentum

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 telah mencapai 5,61 persen, namun nilai tukar rupiah masih tertekan oleh dolar Amerika Serikat. Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai investor melihat pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 bersifat sementara karena terlalu bergantung pada belanja pemerintah.

📖 Baca juga:
Inflasi dan Ekonomi Indonesia: Tren dan Analisis Terbaru

Konsumsi pemerintah yang tumbuh 21,81 persen pada kuartal I 2026 memunculkan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit APBN ke depan. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan fundamental domestik untuk meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat ketahanan eksternal.

Kesimpulan, rupiah Indonesia melemah dan cadangan devisa turun, namun Bank Indonesia masih optimistis terhadap ketahanan sektor eksternal. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada kuartal I 2026 belum sepenuhnya mengatasi kekhawatiran investor terhadap tata kelola fiskal dan koordinasi kebijakan pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *