Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 28 April 2026 | Denpasar, 26 April 2026 – Pada sore hari Minggu, 19 April 2026, seorang siswi kelas 6 SD berinisial KA (13 tahun) melompat dari lantai tiga gedung Pasar Serangan, Denpasar, Bali, dalam aksi yang memicu keprihatinan luas. Kejadian itu terjadi ketika KA dan lima temannya berkumpul untuk berswafoto dan menikmati pemandangan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) dari balkon evakuasi tsunami.
Menurut keterangan Kanit Reskrim Polsek Denpasar Selatan, Iptu Azel Arisandi, korban menyiapkan ponselnya, memutar lagu berjudul “My Time”—soundtrack akhir dalam gim misteri berjudul Omori—dan mengajak teman-temannya merekam video saat ia menari di tepi balkon. Pada akhir lagu, tanpa peringatan, KA berlari dan melompat ke luar balkon, menimbulkan kepanikan di antara para saksi.
Korban berhasil selamat dari jatuh setinggi puluhan meter berkat upaya penyelamatan cepat. Namun, ia mengalami patah pada kedua kaki dan satu tangan, serta mengalami pingsan sesaat. Operasi dilakukan pada 20 April 2026, dan kini korban berada di ruang perawatan intensif dengan kondisi fisik yang stabil namun masih memerlukan rehabilitasi mental.
Polisi melakukan penyelidikan digital forensik terhadap perangkat seluler korban. Hasil analisis menunjukkan bahwa KA menginstal gim Omori melalui file APK pada 17 April 2026, tepat dua hari sebelum insiden. Meskipun gim tersebut memiliki rating usia 17+ karena tema dewasa, tidak ada bukti bahwa korban pernah mengakses konten berbahaya lainnya atau terlibat dalam perundungan daring.
Berikut temuan utama penyelidikan:
- Instalasi gim Omori terdeteksi pada 17 April 2026, dengan jejak file APK yang masih tersimpan.
- Lagu “My Time” diputar pada saat kejadian, sesuai dengan adegan akhir dalam Omori dimana karakter utama melompat dari gedung.
- Analisis percakapan digital tidak mengungkapkan adanya unsur bullying atau tekanan eksternal.
- Wali kelas melaporkan bahwa KA dikenal pendiam, pintar, dan memiliki riwayat self‑harm, termasuk memukul tubuh dengan pulpen.
- Polisi menegaskan dampak psikologis kuat yang muncul setelah dua hari bermain gim, meskipun tidak ada indikasi faktor lain.
Selain aspek teknologi, penyelidikan menyoroti faktor psikologis. KA digambarkan sebagai anak yang sangat tertutup, dengan tekanan batin yang sulit terdeteksi oleh lingkungan sekolah. Wali kelas pernah menyaksikan perilaku melukai diri sendiri, menandakan adanya masalah kesehatan mental yang belum teridentifikasi secara formal.
Iptu Azel menambahkan, “Kami tidak menemukan bukti bullying, namun imajinasi korban sangat luas sehingga ia mengidentifikasi dirinya sebagai karakter dalam gim yang melakukan aksi serupa. Dampaknya luar biasa pada sisi psikologi korban.”
Pihak kepolisian berencana mengundang tim psikolog untuk melakukan wawancara lanjutan setelah kondisi fisik dan mental korban stabil. Tujuannya adalah menggali motif lebih dalam dan menyusun rekomendasi pencegahan bagi kasus serupa.
Polisi juga mengimbau orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan gadget anak, termasuk memfilter konten digital dan mengawasi instalasi aplikasi yang tidak sesuai usia. “Teknologi adalah pisau bermata dua; diperlukan pendampingan aktif dari orang tua,” ujar Iptu Azel.
Kejadian ini menambah daftar insiden tragis yang melibatkan anak-anak di era digital, mengingat popularitas game daring yang semakin luas. Pemerintah daerah Denpasar berjanji akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Komunikasi dan Informatika untuk memperkuat edukasi literasi digital di sekolah.
Kasus ini masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut, sementara keluarga korban berada dalam kondisi syok dan berharap agar putrinya dapat pulih secara menyeluruh, baik fisik maupun mental.











