Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 11 Mei 2026 | Rupiah tercatat melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah ke Rp17.404 per dolar AS, turun 22 poin atau 0,13 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah dipicu penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak akibat kebuntuan pembicaraan antara AS dan Iran. Dari dalam negeri, investor menanti rilis Survei Kepercayaan Konsumen yang diperkirakan turun tipis, dengan proyeksi rupiah bergerak di kisaran Rp17.300–Rp17.400 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026, di rentang Rp17.380 – Rp17.430, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta sikap agresif sejumlah pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve.
Dolar AS menguat terhadap mata uang utama lainnya pada perdagangan awal Asia Senin, 11 Mei 2026, didukung oleh data pekerjaan AS yang kuat yang dirilis akhir pekan lalu. Selain itu, penguatan dolar juga ditopang oleh gencatan senjata AS-Iran yang berada di ujung tanduk, sehingga meningkatkan permintaan terhadap mata uang safe-haven.
Presiden AS Donald Trump menolak tanggapan Iran terhadap proposal AS untuk pembicaraan perdamaian, yang menghancurkan harapan akan segera berakhirnya konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu tersebut. Trump menyebut respons Iran sebagai hal yang sama sekali tidak dapat diterima.
Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata, sementara AS menyebut serangannya sebagai balasan atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan lautnya. Kondisi ini membuat harga minyak dunia melonjak saat perdagangan dilanjutkan pada Senin, dengan minyak mentah Brent naik sebanyak 3,3 persen menjadi USD104,65 per barel.
Dari dalam negeri, pasar turut menyoroti posisi utang pemerintah yang mencapai Rp9.920,42 triliun per 31 Maret 2026 atau naik hampir 3% dibanding posisi akhir 2025 sebesar Rp9.637,9 triliun. Nilai tersebut setara dengan 40,75% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Pemerintah menyatakan rasio utang masih berada di bawah batas aman internasional sebesar 60% terhadap PDB. Namun, tekanan terhadap APBN dinilai semakin besar seiring realisasi defisit anggaran yang mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB pada kuartal I/2026.
Di saat yang sama, realisasi pembiayaan utang telah mencapai Rp258,7 triliun. Kondisi itu membuat pasar semakin sensitif terhadap prospek penerimaan negara dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal.
Kesimpulan, rupiah melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026, dipicu oleh penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak akibat kebuntuan pembicaraan antara AS dan Iran. Dari dalam negeri, investor menanti rilis Survei Kepercayaan Konsumen yang diperkirakan turun tipis, dengan proyeksi rupiah bergerak di kisaran Rp17.300–Rp17.400 per dolar AS.











