Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Stabil, Ini Faktor Penyebabnya

×

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Stabil, Ini Faktor Penyebabnya

Share this article
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Stabil, Ini Faktor Penyebabnya
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Stabil, Ini Faktor Penyebabnya

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 11 Agustus 2026 | Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi sekitar 53,32 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Menurut Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, pertumbuhan konsumsi rumah tangga mencerminkan daya beli masyarakat yang secara umum masih terjaga. Masyarakat tetap memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi meski terjadi pergeseran pola belanja, baik dari sisi jenis barang yang dibeli maupun cara bertransaksi.

📖 Baca juga:
Harga BBM di Indonesia dan Malaysia: Perbandingan dan Dampaknya

Pertumbuhan konsumsi tertinggi terjadi pada kelompok restoran dan hotel sebesar 6,47 persen, disusul kelompok transportasi dan komunikasi yang tumbuh 5,71 persen. Kinerja kedua kelompok tersebut ditopang meningkatnya konsumsi makanan dan minuman jadi, penggunaan transportasi pribadi, pembelian kendaraan bermotor, serta tingginya mobilitas masyarakat.

BPS juga mencatat bahwa sektor industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa. Sementara itu, ekonomi Sumatra tumbuh 5,06 persen dengan sumber pertumbuhan terbesar berasal dari sektor perdagangan, kemudian industri pengolahan, dan pertanian, kehutanan, serta perikanan.

Bali dan Nusa Tenggara menjadi wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia pada triwulan II 2026, yakni 6,10 persen. Menurut BPS, capaian tersebut terutama ditopang oleh sektor pertambangan dan penggalian, disusul perdagangan besar dan eceran, serta administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib.

📖 Baca juga:
Dolar Singapura Menguat, Wisatawan Singapura Serbu Jakarta untuk Belanja dan Wisata Kuliner

Di sisi lain, BPS Jawa Tengah mencatat bahwa terdapat sejumlah komoditas pangan yang memengaruhi pergerakan angka kemiskinan di 35 kabupaten/kota. Bahkan keberadaan komoditas pangan ini jadi penyumbang terbesar garis kemiskinan. Di area perkotaan, komoditas yang memberikan kontribusi terbesar antara lain beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, roti, kue basah, tempe, mi instan, bawang merah, dan gula pasir.

Sementara itu, komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar adalah perumahan. Adapun di perdesaan, selain beras dan rokok kretek dan rokok filter, komoditas lain yang memberi kontribusi besar terhadap garis kemiskinan yaitu telur ayam ras, daging ayam ras, kopi bubuk dan kopi instan, bawang merah, tempe, roti, tahu, serta gula pasir.

Tingkat kemiskinan di Jawa Tengah juga menurun menjadi 9,21 persen, dengan kota 8,59 persen dan desa 9,96 persen. Ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,71 persen secara tahunan pada triwulan II 2026.

📖 Baca juga:
PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk dan Energi Baru: Membuka Peluang Investasi di Sektor Energi Terbarukan

Kesimpulan dari data tersebut adalah bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih stabil dan didorong oleh konsumsi rumah tangga. Namun, perlu diwaspadai bahwa kemiskinan masih menjadi masalah yang perlu diatasi, terutama di daerah-daerah tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *