Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 30 Mei 2026 | Kurs dolar AS terhadap rupiah masih bergerak di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Hal itu tercermin dari kurs jual dolar AS di sejumlah bank besar nasional yang masih berada di kisaran Rp17.800 per dolar AS.
Pengamat mata uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menilai tingginya imbal hasil obligasi AS menjadi salah satu faktor utama yang membuat rupiah sulit menguat.
Sementara itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menjamin harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak akan naik walau kurs dolar AS terhadap rupiah tembus Rp17.877 per dolar.
Bank Indonesia (BI) juga mengungkapkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian global akibat berlanjutnya konflik di Timur Tengah. Selain itu, terdapat peningkatan kebutuhan valuta asing (valas) secara musiman, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen, di tengah terbatasnya arus masuk dolar AS ke pasar domestik.
Untuk menghadapi hal ini, BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dengan mengoptimalkan intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder secara konsisten dan terukur.
Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah memang terus melemah terhadap dolar AS. Namun, pemerintah dan BI terus berupaya untuk menjaga stabilitas ekonomi dan moneter di Indonesia.
Kondisi ini tentunya perlu diwaspadai oleh masyarakat, terutama mereka yang memiliki utang dalam valuta asing atau yang berencana untuk melakukan transaksi internasional. Oleh karena itu, penting untuk terus memantau perkembangan kurs dolar AS dan rupiah serta berbagai faktor yang mempengaruhinya.











