Politik

Trump Klaim Dukungan Global untuk Blokade Selat Hormuz, Inggris Jadi yang Pertama Menolak

×

Trump Klaim Dukungan Global untuk Blokade Selat Hormuz, Inggris Jadi yang Pertama Menolak

Share this article
Trump Klaim Dukungan Global untuk Blokade Selat Hormuz, Inggris Jadi yang Pertama Menolak
Trump Klaim Dukungan Global untuk Blokade Selat Hormuz, Inggris Jadi yang Pertama Menolak

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 14 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencananya untuk menerapkan blokade penuh di Selat Hormuz dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada 12 April 2026. Ia menegaskan bahwa blokade tersebut akan segera efektif dan akan melibatkan dukungan dari sejumlah negara, terutama di kawasan Teluk Persia. “Kami akan melakukan blokade. Ini akan memakan sedikit waktu, tetapi akan segera efektif,” ujar Trump, menambahkan bahwa banyak negara akan membantu Washington dalam menghalangi Iran memperoleh pendapatan dari penjualan minyak.

Menurut pernyataan Trump, negara‑negara Teluk Persia berada di garis depan dukungan, meski ia tidak menyebutkan nama spesifik. Klaim tersebut muncul setelah perundingan intensif antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, gagal menghasilkan kesepakatan akhir untuk menghentikan konflik yang bermula dari operasi militer gabungan AS‑Israel pada akhir Februari 2026.

📖 Baca juga:
Iran Tegaskan Tak Akan Mundur Kembangkan Energi Nuklir di Tengah Tekanan AS

Meski Trump menyoroti bantuan potensial dari sekutu NATO, Inggris secara tegas membantah keterlibatan militer dalam operasi blokade. Juru bicara Pemerintah Inggris menegaskan, “Kami terus mendukung kebebasan navigasi dan pembukaan Selat Hormuz, yang sangat dibutuhkan untuk mendukung ekonomi global dan biaya hidup di dalam negeri.” Inggris juga menambahkan bahwa kapal penyapu ranjau dan unit anti‑drone akan tetap beroperasi di wilayah tersebut, namun tidak akan berpartisipasi dalam aksi blokade yang dipimpin AS.

Penolakan Inggris menjadi sorotan utama karena negara tersebut adalah anggota NATO yang paling vokal dalam menolak penggunaan kekuatan militer untuk menutup jalur laut strategis. Trump menanggapi penolakan itu dengan kritik tajam, menyatakan kekecewaannya terhadap NATO: “Saya sangat kecewa dengan NATO. Sekarang mereka ingin datang dan membantu di selat itu, dan tidak akan butuh waktu lama untuk membersihkannya.”

Rencana blokade tidak hanya melibatkan kapal penyapu ranjau modern milik Amerika Serikat, tetapi juga menambah armada tradisional yang akan dikirim oleh negara‑negara sekutu. Trump menyebut bahwa Inggris telah mengirimkan kapal penyapu ranjau, meski pernyataan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Ia menambahkan, “Kami memiliki kapal penyapu ranjau berteknologi canggih, serta kami juga menambah kapal penyapu ranjau yang lebih tradisional. Jadi saya mengerti. Inggris dan beberapa negara lain mengirimkan kapal penyapu ranjau.”

📖 Baca juga:
CENTCOM Klaim Blokade Selektif, Super Tanker Iran Temukan Celah di Selat Hormuz

Blokade dijadwalkan mulai berlaku pada Senin, 13 April 2026, pukul 10.00 waktu Washington (14.00 GMT). Kebijakan tersebut akan menargetkan semua kapal yang berlayar ke atau dari pelabuhan Iran, termasuk pelabuhan di Teluk Arab dan Teluk Oman. Pusat Komando Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menegaskan bahwa blokade tidak akan membedakan jenis kapal, melainkan menutup semua akses maritim yang terkait dengan Iran.

Respons internasional beragam. Sementara beberapa negara di kawasan Teluk menyatakan dukungan verbal, tidak ada konfirmasi resmi mengenai partisipasi militer mereka. Di sisi lain, Iran mengecam blokade sebagai tindakan ilegal yang dapat mengguncang pasar energi global. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menanyakan rasionalitas kebijakan tersebut dan menyoroti potensi dampak negatif bagi ekonomi dunia.

Analisis para pakar menilai bahwa meskipun blokade dapat menekan pendapatan Iran, efektivitasnya dalam mengendalikan aliran minyak secara keseluruhan masih diragukan. Selat Hormuz menyerap lebih dari satu pertiga pasokan minyak dunia, dan alternatif rute serta stok strategis negara‑negara konsumen dapat mengurangi tekanan jangka pendek. Selain itu, tindakan militer di wilayah tersebut berisiko memicu eskalasi lebih luas, terutama mengingat keterlibatan Israel dalam serangan udara di wilayah Lebanon yang masih berlangsung.

📖 Baca juga:
Iran Tuntut Ganti Rugi Rp 4.300 Triliun dari Lima Negara, Termasuk Bahrain hingga Arab Saudi

Secara geopolitik, klaim Trump tentang dukungan internasional dapat dilihat sebagai upaya memperkuat posisi tawar Amerika Serikat dalam negosiasi dengan Iran. Namun, penolakan tegas dari Inggris dan kritik internal NATO menandakan adanya ketegangan di antara sekutu tradisional AS. Ke depan, perkembangan situasi akan sangat dipengaruhi oleh respons Iran, dinamika harga minyak dunia, serta kemampuan diplomatik negara‑negara mediator seperti Pakistan untuk menahan konflik agar tidak meluas.

Kesimpulannya, meskipun Presiden Trump menegaskan adanya dukungan luas untuk blokade Selat Hormuz, penolakan dari Inggris sebagai anggota NATO utama menambah kompleksitas kebijakan tersebut. Dampak ekonomi dan keamanan regional masih menjadi pertanyaan besar, dan dunia menantikan langkah selanjutnya dari kedua belah pihak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *