Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 01 Mei 2026 | Rekaman kamera pengawas (CCTV) yang baru saja dirilis oleh jaksa federal Amerika Serikat memperlihatkan momen menegangkan pada Sabtu malam (25/4/2026) di hotel Washington Hilton, tempat acara jamuan pers Asosiasi Koresponden Gedung Putih digelar. Seorang pria bersenjata berhasil menembus barisan keamanan dalam hitungan detik, mengarah pada dugaan percobaan pembunuhan terhadap Presiden Donald Trump.
Video tersebut menampilkan pelaku, yang kemudian diidentifikasi sebagai Cole Tomas Allen, berusia 31 tahun, keluar dari pintu hotel dengan mengenakan jaket panjang. Tanpa menunggu pemeriksaan logam, Allen melompat kembali ke lorong dan berlari melewati titik pemeriksaan di mana hampir selusin petugas keamanan berjaga. Dalam hitungan empat detik, ia berhasil melewati detektor logam sebelum seorang petugas menembakkan senjata ke arah pelari bersenjata.
Menurut dokumen pengadilan, Allen membawa sejumlah senjata api, antara lain pistol semi‑otomatis, senapan shotgun kaliber 12, serta tiga buah pisau. Jaket yang dipakainya diduga berfungsi menyembunyikan shotgun, sehingga petugas tidak dapat mengidentifikasinya pada saat pemeriksaan awal. Pada malam kejadian, seorang agen Dinas Rahasia Amerika Serikat (CIA) terkena tembakan, namun tidak mengalami luka serius karena mengenakan rompi antipeluru.
- Pistol semi‑otomatis
- Shotgun kaliber 12
- Tiga pisau
Setelah menembak, pelaku terus berlari menuruni lorong. Ia kemudian menabrak detektor logam, terjatuh, dan berhasil dilumpuhkan oleh petugas keamanan. Selama konfrontasi, agen CIA melaporkan bahwa pelaku menembak dari jarak sangat dekat, namun agen tersebut tetap mampu menembak balik sebanyak lima kali meski tidak berhasil mengenai Allen.
Insiden ini memaksa Presiden Trump, Wakil Presiden JD Vance, serta sejumlah pejabat tinggi Gedung Putih untuk dievakuasi dengan cepat. Suara tembakan terdengar jelas, menimbulkan kepanikan di antara para tamu dan media yang hadir. Setelah penangkapan, Allen didakwa atas percobaan pembunuhan terhadap Presiden serta sejumlah tuduhan tambahan, termasuk kepemilikan senjata lintas negara bagian untuk melakukan kejahatan dan penggunaan senjata api dalam tindak kekerasan. Masing‑masing tuduhan tersebut dapat membawa hukuman maksimal sepuluh tahun penjara.
Investigasi lebih lanjut mengungkap bahwa Allen sebelumnya melakukan pengintaian di area hotel satu hari sebelum acara. Ia sempat check‑in sebagai tamu, berkeliling koridor, bahkan menggunakan pusat kebugaran hotel. Tindakan tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai prosedur keamanan yang diterapkan pada acara tingkat tinggi di Washington.
Pihak berwenang kini menelusuri jaringan dan motif di balik aksi tersebut. Beberapa laporan menyebutkan bahwa Allen memiliki latar belakang radikal, namun penyelidikan masih berlangsung untuk mengkonfirmasi motif politik atau pribadi. Sementara itu, otoritas keamanan Gedung Putih berjanji akan memperketat prosedur pemeriksaan, menambah jumlah petugas, dan memperbarui teknologi deteksi senjata.
Kasus ini menambah daftar insiden kekerasan yang menargetkan pejabat tinggi Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir, menyoroti tantangan keamanan dalam era di mana senjata api mudah diakses dan terorisme domestik terus berkembang.
Dengan proses hukum yang sedang berjalan, publik menantikan kejelasan lebih lanjut mengenai peran Allen, jaringan potensial yang mendukungnya, serta langkah-langkah preventif yang akan diimplementasikan untuk melindungi institusi penting negara.
Kesimpulannya, rekaman CCTV memberikan gambaran jelas tentang kegagalan titik masuk keamanan dan keberanian petugas yang berhasil menghentikan pelaku. Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi otoritas keamanan nasional dalam menanggapi ancaman yang semakin canggih.











