Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 13 April 2026 | Jakarta, 13 April 2026 – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan langkah tegas untuk mengatasi invasi ikan sapu‑sapu (Pterygoplichthys spp.) yang telah mengganggu ekosistem sungai ibu kota. Dalam konferensi pers di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Pramono mengumumkan rencana operasi pembasmian yang akan dilaksanakan di semua wilayah Jakarta, tidak hanya di Jakarta Pusat. “Saya meminta bukan hanya di Jakarta Pusat, tapi di semua wilayah yang populasi ikan sapu‑sapunya tinggi untuk kita adakan operasi pembasmian,” ujarnya dengan tegas.
Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kehutanan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, ikan sapu‑sapu merupakan spesies invasif asal Amerika Selatan yang memiliki daya tahan tinggi, mampu memakan hampir seluruh sumber makanan di perairan, serta menyimpan telur dalam struktur turap sungai. Hal ini menyebabkan kerusakan pada turap, menurunkan kualitas air, dan mengancam keberlangsungan ikan lokal serta wader yang bergantung pada ekosistem alami.
Data lapangan yang dikumpulkan sejak awal April menunjukkan temuan bakteri Salmonella, E. coli, serta residu logam berat pada sampel air dan ikan di Kali Ciliwung. “Ambang batas pencemaran melebihi standar yang ditetapkan, sehingga ikan sapu‑sapu tidak hanya merusak habitat, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat yang mungkin mengkonsumsinya,” jelas Hasudungan.
Operasi pertama telah dilaksanakan pada Jumat, 10 April 2026, di Kali Cideng depan Plaza Indonesia, kawasan Gondangdia, Kecamatan Menteng. Tim gabungan yang terdiri dari petugas Dinas KPKP, Badan Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), serta relawan warga berhasil menangkap lebih dari 40 ekor ikan sapu‑sapu. Ikan‑ikan tersebut kemudian dimatikan secara manusiawi dengan cara mematahkan tubuhnya dan dikubur di lokasi yang telah ditentukan, guna mencegah penyebaran lebih lanjut.
Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat, Arifin, menambahkan bahwa banyak ikan sapu‑sapu yang masuk ke dalam turap, merusak struktur penahan air serta menyimpan telurnya di sana. “Ikan ini sangat berbahaya karena dapat memakan racun yang ada di sungai, dan saya mengimbau warga untuk tidak mengonsumsi ikan sapu‑sapu,” pungkasnya.
Untuk memastikan penanganan yang terkoordinasi, Pramono menugaskan tiap Dinas terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Perhubungan, agar melakukan survei populasi ikan sapu‑sapu di semua kanal dan sungai kecil. Hasil survei akan menjadi dasar penentuan prioritas wilayah yang akan menjadi target operasi selanjutnya. Selain itu, Pramono menegaskan bahwa ikan yang telah ditangkap akan dibawa ke Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPISHP) Ciganjur untuk proses pemusnahan yang aman.
Langkah-langkah teknis yang direncanakan meliputi:
- Pemetaan titik-titik konsentrasi ikan sapu‑sapu menggunakan drone dan sensor kualitas air.
- Pengadaan jaring khusus berukuran besar serta perangkap berdaya tarik listrik untuk meminimalisir stres pada ikan non‑target.
- Pelatihan relawan komunitas sekitar sungai tentang cara mengenali ikan sapu‑sapu dan prosedur penangkapan yang aman.
- Penyuluhan publik melalui media sosial dan poster di titik-titik strategis mengenai bahaya mengkonsumsi ikan sapu‑sapu.
Komunitas lingkungan dan LSM juga diberikan peran aktif dalam monitoring pasca‑operasi. Salah satu LSM, “Hijau Jakarta”, menyatakan kesiapan untuk membantu verifikasi keberhasilan operasi dan mengumpulkan data dampak ekologis setelah penangkapan massal.
Para ahli ekologi setempat menilai bahwa tindakan cepat dan terintegrasi sangat penting untuk mencegah penyebaran lebih luas. Dr. Rina Widyawati, pakar biologi perairan Universitas Indonesia, mencatat bahwa tanpa intervensi, populasi ikan sapu‑sapu dapat meluas ke kanal‑kanal kecil yang menjadi sumber air bersih bagi ribuan warga. “Jika tidak segera dikendalikan, dampak pada kualitas air, biodiversitas, serta kesehatan masyarakat dapat menjadi bencana lingkungan jangka panjang,” ujarnya.
Operasi pembasmian ini diharapkan selesai dalam beberapa fase, dimulai dari wilayah dengan konsentrasi tertinggi, seperti Kali Cideng, Kali Ciliwung bagian tengah, serta kanal‑kanal di Jakarta Timur. Pramono menutup konferensi pers dengan harapan bahwa sinergi antar‑instansi, pemerintah, serta masyarakat dapat menciptakan ekosistem sungai yang lebih bersih, aman, dan lestari bagi generasi mendatang.











