Nasional

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menghidupkan Kembali Semangat Gotong Royong

×

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menghidupkan Kembali Semangat Gotong Royong

Share this article
Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menghidupkan Kembali Semangat Gotong Royong
Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menghidupkan Kembali Semangat Gotong Royong

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 23 Mei 2026 | Pada tanggal 20 Mei 2026, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Momentum ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai seremoni tahunan, melainkan sebagai refleksi atas melemahnya solidaritas kebangsaan dan memudarnya semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Bangsa Indonesia sedang menghadapi paradoks besar. Di satu sisi, teknologi berkembang sangat cepat, konektivitas digital semakin luas, dan ruang publik semakin terbuka. Namun, di sisi lain, masyarakat justru makin mudah terpecah, saling curiga, dan kehilangan empati sosial.

📖 Baca juga:
Tito Karnavian Dukung Perpukadesi: Tiga Ingatan Penting untuk Pembangunan Seimbang dan Imunisasi Anak

Polarisasi politik, pertikaian identitas, budaya saling menghina di media sosial, hingga menguatnya individualisme menjadi gambaran nyata bahwa fondasi kebangsaan kita sedang mengalami erosi serius. Padahal, sejarah berdirinya Indonesia tidak pernah dibangun di atas semangat individualisme.

Indonesia lahir dari kerja kolektif, persatuan gagasan, dan keberanian untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional sejatinya bukan hanya tentang mengenang lahirnya Budi Utomo pada 1908, tetapi tentang menghidupkan kembali kesadaran bersama bahwa bangsa ini hanya akan kuat apabila rakyatnya masih memiliki solidaritas sosial.

Kelahiran Budi Utomo menjadi titik penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Organisasi ini menandai perubahan besar dari perlawanan yang bersifat lokal dan kedaerahan menuju kesadaran kolektif sebagai bangsa.

Dalam berbagai catatan sejarah, kebangkitan nasional lahir dari kesadaran kaum terpelajar pribumi bahwa penjajahan tidak bisa dilawan secara individual, melainkan melalui organisasi, pendidikan, dan persatuan sosial-politik.

📖 Baca juga:
35 Anggota Satpol PP DKI Meninggal: Beban Kerja Satpol PP Jadi Penyebab Utama

Sejarawan Sartono Kartodirdjo dalam Pengantar Sejarah Indonesia Baru menjelaskan bahwa kebangkitan nasional merupakan proses tumbuhnya kesadaran nasional yang ditopang oleh solidaritas sosial antarkelompok masyarakat pribumi. Kesadaran ini menjadi fondasi lahirnya gerakan kebangsaan Indonesia modern.

Artinya, sejak awal, nasionalisme Indonesia sesungguhnya dibangun di atas semangat kolektivitas. Sayangnya, semangat itu kini mulai mengalami degradasi. Politik hari ini terlalu sering dipertontonkan sebagai arena perebutan kekuasaan semata, bukan ruang memperjuangkan kepentingan rakyat.

Demokrasi dipenuhi pertikaian identitas, buzzer politik, propaganda digital, dan polarisasi yang menguras energi sosial masyarakat. Ruang digital yang semestinya menjadi medium edukasi publik justru kerap berubah menjadi arena kebencian dan disinformasi.

Dalam situasi seperti ini, gotong royong kehilangan makna substantifnya. Ia hanya hadir sebagai slogan seremonial, tetapi tidak benar-benar hidup dalam praktik kehidupan berbangsa. Padahal, para pendiri bangsa telah menempatkan gotong royong sebagai inti dari kepribadian Indonesia.

📖 Baca juga:
Libur Nasional Mei 2026: Jadwal Tanggal Merah, Cuti Bersama, dan Tiga Long Weekend untuk Liburan Keluarga

Menyambut Hari Kebangkitan Nasional 2026, kita harus menghidupkan kembali semangat gotong royong dan solidaritas kebangsaan. Kita harus mengingat kembali bahwa Indonesia lahir dari kerja kolektif dan persatuan gagasan, bukan dari individualisme dan pertikaian.

Kita harus memahami bahwa kebangkitan nasional bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang membangun masa depan yang lebih baik. Kita harus memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi atau kelompok.

Dengan demikian, kita dapat menghidupkan kembali semangat gotong royong dan solidaritas kebangsaan, sehingga Indonesia dapat menjadi bangsa yang kuat dan maju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *