Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 09 Juni 2026 | Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) terlibat dalam konflik di Selat Hormuz. Pada 3 Juni 2026, serangan udara Iran menghantam Terminal 1 Bandar Udara Internasional Kuwait, menewaskan satu orang dan melukai puluhan lainnya.
Peristiwa ini bukanlah letupan tunggal, melainkan satu mata rantai dari perang regional yang meletus sejak akhir Februari 2026, ketika serangan udara AS dan Israel atas Iran disambut kampanye balasan Teheran ke setiap negara Teluk yang menampung pangkalan militer Washington.
Pertanyaannya kemudian menjadi rumit. Dalam pusaran ini, siapa sebenarnya yang mengancam dan siapa yang terancam? Sejak operasi Iran bertajuk “True Promise IV” dilancarkan pada akhir Februari, peta serangan memperlihatkan pola yang konsisten.
Uni Emirat Arab (UEA) menjadi sasaran paling intens, yakni lebih dari 2.800 rudal dan drone dilepaskan ke wilayahnya, terbanyak di antara seluruh negara kawasan kecuali Israel.
Komando Pusat AS atau CENTCOM, yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, menyatakan pasukannya menyerang lokasi radar pengawasan di kawasan tersebut "untuk mempertahankan diri dari serangan maritim lanjutan" setelah Iran meluncurkan drone ke arah Selat Hormuz.
Iran mengecam keras serangan AS terhadap fasilitas radar dan pengawasan pesisir di wilayah selatan negara itu. Iran menyebut serangan tersebut sebagai "pelanggaran yang jelas" terhadap gencatan senjata rapuh antara Washington dan Teheran.
Ketegangan ini memuncak setelah The Wall Street Journal mengungkap bahwa UEA diam-diam membombardir kilang minyak Iran di Pulau Lavan pada 8 April 2026, menjadikannya satu-satunya negara Teluk yang berubah menjadi kombatan aktif.
AS berhasil menembak jatuh empat drone serang satu arah yang diluncurkan Iran menuju jalur perairan strategis Selat Hormuz. Setelah itu, AS menyerang situs radar pengintaian pantai milik Iran yang berada di Kota Goruk, Pulau Qeshm.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Iran menggambarkan serangan tersebut sebagai pelanggaran yang jelas terhadap gencatan senjata 8 April dan tindakan agresi militer terhadap kedaulatan serta integritas wilayah Republik Islam Iran.
Ketegangan di Timur Tengah kembali naik level. Militer AS mengonfirmasi telah menyerang instalasi radar milik Iran di pesisir selatan negara itu, hanya beberapa jam setelah menembak jatuh empat drone serang yang menuju Selat Hormuz, jalur minyak paling strategis di dunia.
Komando Pusat AS atau CENTCOM, yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, menyebut serangan itu terjadi pada Jumat (5/6) waktu setempat. Menurut CENTCOM, sebelum serangan ke radar dilakukan, pasukan AS lebih dulu menghancurkan empat drone serang satu arah yang diluncurkan Iran dan mengarah ke perairan strategis Selat Hormuz.
Setelah insiden tersebut, CENTCOM menyatakan pihaknya kemudian membidik situs radar pengintaian pantai milik Iran yang berada di Kota Goruk, Pulau Qeshm. "Drone-drone serang itu menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional," kata CENTCOM dalam pernyataannya.
CENTCOM menegaskan serangan ke instalasi radar dilakukan untuk "mencegah serangan-serangan lebih lanjut". Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran maupun Garda Revolusi Iran terkait klaim tersebut.
Kesimpulan dari konflik ini adalah bahwa situasi di Timur Tengah semakin memanas dan tidak menentu. AS dan Iran terlibat dalam konflik yang semakin serius, dan tidak ada tanda-tanda bahwa konflik ini akan segera berakhir.











