Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 03 Juli 2026 | Pemerintah Irak menggelar operasi antikorupsi besar-besaran yang berujung pada penangkapan puluhan pejabat tinggi negara. Langkah yang digagas Perdana Menteri (PM) Ali al-Zaidi ini dilakukan menjelang rencana kunjungan dinasnya ke Washington, Amerika Serikat (AS), bulan depan.
Operasi tersebut ditujukan untuk menunjukkan komitmen pemerintahan baru Irak dalam memberantas korupsi sekaligus memperkuat kendali negara atas kepemilikan senjata. Dilansir The Hindu, operasi yang dijalankan oleh Dinas Kontra Terorisme bersama Unit Operasi Khusus ini dimulai sejak Minggu (28/6/2026) dengan menggerebek Zona Hijau Baghdad.
Kawasan dengan pengamanan ketat tersebut merupakan lokasi Kedutaan Besar AS, misi diplomatik, pusat pemerintahan, serta hunian pejabat tinggi. Wilayah operasi kemudian diperluas hingga ke Provinsi Wasit, Kirkuk, dan Anbar pada Senin (29/6/2026).
Sejauh ini, sedikitnya 53 politisi, anggota parlemen aktif, dan mantan pejabat pemerintah telah ditahan, dengan perkiraan jumlah tersangka yang akan diproses hukum mencapai lebih dari 100 orang. Otoritas Irak baru merilis 15 nama demi kelancaran investigasi dan mencegah tersangka lain kabur ke luar negeri.
Selain itu, aparat juga menahan anggota parlemen Alia Nassif, mantan Gubernur Wasit Mohammed Jameel al-Mayahi, Wakil Menteri Minyak Ali Maarij yang berada di bawah sanksi AS, hingga saudara kandung dan mantan kepala kantor eks PM al-Sudani.
Dalam rangkaian penggerebekan ini, petugas menyita aset mewah, emas, serta uang tunai senilai miliaran dinar Irak dan jutaan dolar AS. Seorang pejabat keamanan menyatakan kepada AFP bahwa selain karena kasus suap dan korupsi, operasi ini merupakan bagian dari kampanye besar untuk memutus jalur pendanaan faksi-faksi bersenjata, serta jaringan penyelundupan dolar dan minyak Iran.
Momentum penggerebekan ini juga bertepatan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, ke Baghdad. Irak sendiri sekian lama berada di tengah pusaran pengaruh dua sekutunya, yaitu Iran dan AS.
PM Zaidi, yang naik takhta dengan restu AS, sangat berharap operasi ini bisa menarik investasi Washington demi memulihkan ekonomi negara yang terpukul akibat hilangnya pendapatan ekspor minyak selama perang West Asia.
Penyelidikan masif ini berkembang setelah adanya pengakuan dari mantan Wakil PM Minyak, Adnan al-Jumaili, yang sudah ditangkap lebih awal. Dalam pemeriksaannya, al-Jumaili bernyanyi dan menyeret banyak figur publik yang ia danai saat kampanye Pemilu Parlemen November 2025 lalu.
Pada awal bulan ini, otoritas Irak bahkan telah menyita aset lebih dari 85 juta dolar AS (setara Rp1,4 triliun) terkait kasus al-Jumaili tersebut. Kini, Pemerintah Irak tengah menyiapkan daftar buron untuk diserahkan ke Interpol guna mengekstradisi tersangka yang kabur ke luar negeri, termasuk berkoordinasi dengan Wilayah Kurdistan untuk menyerahkan tiga anggota parlemen yang melarikan diri ke sana.
PM Zaidi menegaskan operasi ini baru permulaan dan mendapatkan dukungan penuh dari tokoh agama serta masyarakat sipil Irak.
Sementara itu, dalam bidang sepak bola, Pelatih Timnas Irak, Graham Arnold, menilai sepak bola Asia masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar untuk bisa bersaing secara konsisten dengan negara-negara papan atas dunia.
Menurutnya, perbedaan kualitas itu terlihat jelas ketika tim-tim Asia berhadapan dengan negara yang dihuni pemain-pemain dari kompetisi elite Eropa. Arnold menyampaikan pandangannya setelah menghadapi Senegal dalam laga uji coba.
Ia mengakui bahwa pertandingan tersebut memberikan gambaran nyata mengenai jarak yang masih memisahkan tim-tim Asia dengan kekuatan sepak bola dunia.
Dalam konteks lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menggelar serangkaian pertemuan tingkat tinggi dengan para pemimpin Irak dalam kunjungan resminya ke Baghdad pada Minggu, 28 Juni 2026. Pertemuan tersebut membahas penguatan hubungan bilateral serta upaya membangun sistem keamanan kolektif di kawasan Asia Barat.
Di sisi lain, kode telepon internasional +964 ditetapkan oleh International Telecommunication Union (ITU) berdasarkan standar E.164, dan merupakan identitas telekomunikasi bagi negara Irak, sebuah negara yang terletak di kawasan Timur Tengah.
Kode negara +964 sangat penting untuk menjalin panggilan internasional ke Irak, memastikan bahwa panggilan diarahkan secara akurat melalui jaringan telekomunikasi global.
Dilansir dari Worldometer, Irak memiliki kode panggilan negara +964, kode ISO 3166-1 alpha-3 IRQ, kode alpha-2 IQ, serta kode numerik 368 dan domain tingkat atas negara .iq.
Jawaban singkat dari pertanyaan +964 negara mana adalah Irak (bahasa Inggris: Iraq). Irak merupakan negara yang terletak di kawasan Asia Barat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Timur Tengah.
Negara ini memiliki ibu kota di Baghdad dan berbatasan dengan Iran, Turki, Suriah, Yordania, Arab Saudi, serta Kuwait.
Kesimpulan, Irak saat ini sedang melakukan operasi antikorupsi besar-besaran yang ditujukan untuk menunjukkan komitmen pemerintahan baru dalam memberantas korupsi dan memperkuat kendali negara atas kepemilikan senjata.











