Internasional

China Dituding Gerakkan Spionase di London, Beijing Bantah dan Sebut Manipulasi Politik

×

China Dituding Gerakkan Spionase di London, Beijing Bantah dan Sebut Manipulasi Politik

Share this article
China Dituding Gerakkan Spionase di London, Beijing Bantah dan Sebut Manipulasi Politik
China Dituding Gerakkan Spionase di London, Beijing Bantah dan Sebut Manipulasi Politik

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 09 Mei 2026 | Ketegangan diplomatik Inggris dan China kembali memanas setelah pengadilan London memvonis dua pria bersalah dalam kasus spionase yang disebut terkait langsung dengan operasi intelijen Hong Kong dan pada akhirnya Beijing.

Kasus ini menyibak tabir dugaan jaringan pengawasan rahasia terhadap aktivis pro-demokrasi Hong Kong yang hidup dalam pengasingan di Inggris. Pemerintah Inggris langsung bereaksi keras. Menteri Keamanan Inggris Dan Jarvis mengatakan aktivitas kedua pria tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan Inggris.

📖 Baca juga:
Ketegangan Segitiga: Amerika, Israel, Iran Peruncing Geopolitik Timur Tengah dan Dampaknya pada Energi Global

London bahkan memutuskan memanggil Duta Besar China untuk menyampaikan protes resmi atas dugaan operasi mata-mata di wilayah Inggris. “Aktivitas yang dilakukan kedua pria ini atas nama China merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan kami dan tidak akan pernah ditoleransi,” kata Jarvis.

Kasus ini menyeret nama mantan kepala kepolisian Hong Kong Bill Yuen, 65 tahun, yang disebut menjalankan operasi pengawasan dari Kantor Ekonomi dan Perdagangan Hong Kong (HKETO) di pusat kota London. Pengadilan Old Bailey mendengar bahwa Yuen merekrut petugas Border Force Inggris Peter Wai serta sejumlah orang lain, termasuk mantan anggota Royal Marine Matthew Trickett, untuk menjalankan operasi intelijen terhadap para pembangkang Hong Kong di Inggris.

Jaksa menyebut jaringan tersebut melakukan kampanye pengawasan, intimidasi, hingga upaya infiltrasi terhadap gerakan pro-demokrasi Hong Kong. Para aktivis bahkan disebut dijuluki “kecoa” dalam operasi tersebut. Peter Wai, yang sebelumnya pernah bertugas di Kepolisian Metropolitan dan kemudian bekerja di Border Force Bandara Heathrow, dinyatakan bersalah membantu badan intelijen asing berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional Inggris.

Ia juga terbukti menyalahgunakan akses basis data Kementerian Dalam Negeri Inggris untuk mencari informasi terkait target-target operasi. Pengadilan mengungkap bahwa Wai dan Trickett menjalankan perusahaan keamanan swasta bernama D5 Security. Melalui jaringan itu, mereka disebut membuntuti aktivis, merekam aktivitas demonstrasi, hingga melacak transaksi dan kehidupan pribadi target operasi.

📖 Baca juga:
CENTCOM Klaim Blokade Selektif, Super Tanker Iran Temukan Celah di Selat Hormuz

Nama sejumlah aktivis pro-demokrasi Hong Kong yang kini tinggal di Inggris muncul dalam dokumen pengawasan tersebut, termasuk Christopher Mung dan Nathan Law. Dalam salah satu operasi yang disebut “Operasi Hong Kong”, Wai dan Trickett diperintahkan memantau Nathan Law saat menghadiri acara di Oxford Union.

Christopher Mung mengatakan dirinya baru menyadari menjadi target operasi mata-mata setelah kasus tersebut terungkap di pengadilan. Ia mengaku kini hidup dalam ketakutan dan harus memasang kamera pengawas serta membawa alarm pribadi demi keselamatan keluarganya.

China membantah tudingan tersebut yang dianggap mencemarkan nama baik Beijing. China menyebut tindakan Inggris sebagai manipulasi politik. Kasus ini menambah ketegangan antara Inggris dan China yang telah memanas sejak beberapa waktu terakhir.

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara Inggris dan China telah memburuk akibat perselisihan tentang berbagai isu, termasuk hak asasi manusia, keamanan, dan ekonomi. Kasus spionase ini dikhawatirkan akan memperburuk hubungan kedua negara tersebut.

📖 Baca juga:
Hizbullah Serang Pasukan Israel Saat Evakuasi, Iran Sita Kapal di Selat Hormuz, dan Israel Memperluas Serangan ke Lebanon Timur

Inggris dan China perlu menemukan cara untuk menyelesaikan perbedaan mereka dan meningkatkan kerja sama dalam berbagai bidang. Namun, dengan kasus spionase ini, prospek untuk perbaikan hubungan tampaknya semakin sulit.

Kesimpulan dari kasus ini adalah bahwa ketegangan antara Inggris dan China semakin memanas akibat kasus spionase. China membantah tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai manipulasi politik. Inggris dan China perlu menemukan cara untuk menyelesaikan perbedaan mereka dan meningkatkan kerja sama dalam berbagai bidang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *