Internasional

CENTCOM Klaim Blokade Selektif, Super Tanker Iran Temukan Celah di Selat Hormuz

×

CENTCOM Klaim Blokade Selektif, Super Tanker Iran Temukan Celah di Selat Hormuz

Share this article
CENTCOM Klaim Blokade Selektif, Super Tanker Iran Temukan Celah di Selat Hormuz
CENTCOM Klaim Blokade Selektif, Super Tanker Iran Temukan Celah di Selat Hormuz

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 18 April 2026 | JAKARTA, 17 April 2026 – Menjelang pertengahan pekan, ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak setelah data pelayaran mengungkap dua super tanker Iran berhasil menembus wilayah strategis tersebut meski Amerika Serikat telah menerapkan blokade laut selektif. Komando Pusat Angkatan Laut Amerika (CENTCOM) menegaskan pada platform media sosial X bahwa setidaknya sepuluh kapal telah dipaksa berbalik arah sejak blokade diberlakukan pada 13 April, namun laporan intelijen menunjukkan satu kapal tanker besar berhasil melewati selat pada 15 April.

Kapal yang dimaksud adalah Very Large Crude Carrier (VLCC) bernama RHN, yang menurut data LSEG dan Kpler tidak mengangkut muatan pada saat memasuki perairan Teluk. Kapasitas kapal tersebut mencapai dua juta barel, menjadikannya aset penting dalam rantai pasok minyak Iran. RHN muncul di pelayaran pada 15 April, tepat satu hari setelah VLCC lain bernama Alicia, juga dikenai sanksi AS, menyeberangi Selat Hormuz menuju wilayah Irak. Kedua kapal tersebut memiliki riwayat pengangkutan minyak Iran dalam beberapa tahun terakhir, menandakan pola penggunaan armada besar untuk menghindari pembatasan.

📖 Baca juga:
Trump Keras Mengkritik Paus Leo XIV, Iran dan Italia Merespon dengan Tegas

Blokade yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump pada 12 April setelah perundingan damai di Islamabad gagal mencapai kesepakatan, bertujuan menghentikan semua kapal yang berhubungan dengan pelabuhan Iran. CENTCOM menyatakan tidak ada kapal yang berhasil menembus blokade sejak kebijakan itu diterapkan, namun data independen menimbulkan keraguan atas efektivitas operasi militer tersebut. Fars News Agency pada 15 April melaporkan keberhasilan sebuah super tanker Iran menembus selat, meski tidak mengungkapkan identitas kapal. Informasi tersebut kemudian dipastikan oleh LSEG dan Kpler, yang menegaskan keberadaan kapal RHN di wilayah tersebut.

Selain RHN, beberapa kapal lain mengalami konsekuensi dari blokade. Kapal tanker Rich Starry, yang juga berada di bawah sanksi, dipaksa kembali ke perairan Teluk pada 15 April setelah sempat meninggalkan zona. Kejadian ini memperlihatkan bahwa meskipun beberapa kapal berhasil menembus, banyak juga yang harus mengubah rute demi menghindari konfrontasi militer.

📖 Baca juga:
Krisis Imigran Laos di Oregon dan Kebangkitan Timnas U-17 Laos di Piala AFF: Dua Sisi Dinamika Negara Kecil di Panggung Global
  • VLCC RHN – tidak mengangkut muatan, masuk Selat Hormuz 15/04.
  • VLCC Alicia – dikenai sanksi AS, menyeberang menuju Irak.
  • Kapal Rich Starry – kembali ke Teluk setelah dipaksa berbalik.

Iran, yang mengelola kebijakan pelayaran melalui otoritas maritimnya, dilaporkan mempertimbangkan opsi mengizinkan kapal berlayar melalui sisi Oman Selat Hormuz tanpa risiko serangan, sebagai bagian tawaran negosiasi dengan Amerika Serikat. Proposal ini menekankan perlunya kesepakatan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan mengamankan jalur pelayaran penting bagi pasar energi global.

Keberhasilan kapal-kapal Iran menembus blokade menimbulkan pertanyaan strategis mengenai kemampuan militer AS dalam mengendalikan perairan internasional yang sangat diperdagangkan. Para pengamat menilai bahwa operasi blokade selektif, meski menimbulkan tekanan ekonomi, belum cukup untuk sepenuhnya menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz, terutama bila Iran dapat memanfaatkan celah taktik atau mengalihkan rute ke jalur alternatif.

📖 Baca juga:
Blokade AS di Selat Hormuz Hentikan Tanker Iran, Kapal Tanker China Pertama Lepas!

Dengan lebih dari sepuluh kapal yang dipaksa berbalik arah, namun tetap ada kapal yang berhasil melintas, dinamika di Selat Hormuz mencerminkan ketegangan geopolitik yang terus berkembang. Pemerintah AS kemungkinan akan meninjau kembali taktik blokade, sementara Tehran dapat memperkuat strategi maritimnya untuk memastikan kelangsungan ekspor minyak meski berada di bawah sanksi internasional.

Situasi ini menegaskan pentingnya pemantauan berkelanjutan oleh lembaga intelijen maritim serta keterlibatan organisasi internasional untuk menjaga stabilitas jalur pelayaran utama dunia. Kedua negara besar, Amerika Serikat dan Iran, tampaknya berada pada titik kritis di mana keputusan selanjutnya akan menentukan arah keamanan energi global selama beberapa bulan mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *