Ekonomi

Harga BBM Pertamina Naik, Konsumsi Pertamax Turun 18 Persen

×

Harga BBM Pertamina Naik, Konsumsi Pertamax Turun 18 Persen

Share this article
Harga BBM Pertamina Naik, Konsumsi Pertamax Turun 18 Persen
Harga BBM Pertamina Naik, Konsumsi Pertamax Turun 18 Persen

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 17 Juli 2026 | Kenaikan harga BBM nonsubsidi pada April lalu berdampak pada perubahan pola konsumsi masyarakat. PT Pertamina Patra Niaga mencatat konsumsi BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax series, turun sekitar 18 persen. Sementara itu, konsumsi BBM subsidi seperti Pertalite meningkat sekitar 9,4 persen.

Penurunan konsumsi Pertamax series ini disebabkan oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi. Sebelumnya, konsumsi Pertamax series mencapai 23,2 persen, namun setelah kenaikan harga, konsumsi tersebut turun menjadi 18,8 persen. Selain itu, konsumsi Pertamax Turbo juga turun dari 1,3 persen menjadi 0,7 persen, sedangkan Pertamax Green 95 naik tipis dari 0,1 persen menjadi 0,2 persen.

📖 Baca juga:
Antam (ANTM) Gapai Momentum Baru: Nikel Kian Dominan, Emas Menuju Rekor ATH 2026

Volume penyaluran Pertalite juga meningkat sekitar 9,4 persen, atau sekitar 7.129 kiloliter per hari dibandingkan kondisi normal. Sebaliknya, penyaluran Pertamax Series turun 18 persen, atau sekitar 4.476 kiloliter per hari. Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menjelaskan bahwa penurunan konsumsi Pertamax series ini memang terjadi usai kenaikan harga BBM nonsubsidi pada April lalu.

Di sisi lain, harga Pertalite eceran di Medan dilaporkan mencapai Rp 25.000 per botol, padahal harga resmi Pertalite di SPBU Pertamina ditetapkan sebesar Rp 10.000 per liter. Hal ini diduga dipicu oleh sulitnya masyarakat mendapatkan BBM di sejumlah SPBU dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut dinilai telah “dimanfaatkan” oleh sebagian pedagang BBM eceran yang menjual Pertalite dengan harga lebih tinggi dari biasanya.

📖 Baca juga:
Ekonomi Indonesia Jauh dari Krisis, Wakil Menteri Keuangan Sebutkan Tiga Sumber Krisis

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menegaskan bahwa harga BBM yang dijual oleh pengecer berada di luar kewenangan Pertamina. “Terkait informasi harga BBM di tingkat pengecer, perlu kami sampaikan bahwa pengecer bukan merupakan lembaga penyalur resmi Pertamina,” ujarnya.

Penurunan konsumsi Pertamax series ini juga berdampak pada permintaan BBM subsidi di beberapa wilayah. Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan menilai bahwa kebijakan harga solar Rp 15.000 per liter bagi kapal perikanan berkapasitas 30-200 gross ton (GT) akan memberikan dampak signifikan terhadap biaya operasional melaut. Penurunan harga solar akan membantu menekan biaya operasional kapal sehingga dapat mendorong kapal-kapal perikanan kembali beroperasi.

📖 Baca juga:
Harga Rupiah Melemah, Dampaknya terhadap Perekonomian dan Kelas Menengah

Dalam beberapa hari terakhir, juga viral video yang memperlihatkan antrean panjang kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang didominasi sepeda motor sport lawas Suzuki Thunder dengan tangki bahan bakar minyak (BBM) yang telah dimodifikasi. Pertamina telah membuka suara terkait fenomena ini dan menjelaskan bahwa penurunan konsumsi Pertamax series memang terjadi usai kenaikan harga BBM nonsubsidi pada April lalu.

Kesimpulan dari perubahan pola konsumsi BBM masyarakat ini adalah bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi telah berdampak pada penurunan konsumsi Pertamax series dan peningkatan konsumsi BBM subsidi seperti Pertalite. Hal ini juga berdampak pada permintaan BBM di beberapa wilayah dan kegiatan operasional kapal perikanan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyesuaian harga BBM yang tepat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendukung kegiatan ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *