Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 26 Mei 2026 | Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tidak dalam keadaan krisis. Ia menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen, inflasi April 2026 sebesar 2,42 persen, konsumsi rumah tangga 5,52 persen, dan peningkatan belanja negara tumbuh 34,3 persen dengan pendapatan negara yang tembus Rp 918 triliun per April 2026.
Menurut Juda Agung, tiga sumber krisis ekonomi adalah krisis fiskal, krisis neraca pembayaran, dan krisis keuangan. Ia menjelaskan bahwa krisis fiskal terjadi ketika defisit fiskal membengkak dan pemerintah tidak lagi mampu memperoleh pembiayaan karena investor kehilangan kepercayaan. Sementara itu, krisis neraca pembayaran terjadi ketika neraca pembayaran mengalami tekanan berat karena banyak perusahaan menarik pinjaman luar negeri dalam jumlah besar dan kemudian kolaps karena tidak mampu membayar utang luar negeri.
Juda Agung juga menyebutkan bahwa krisis keuangan dapat dipicu oleh ekspansi kredit yang terlalu agresif serta pecahnya gelembung aset di sektor tertentu. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh dari situasi krisis seperti yang terjadi pada 1997-1998.
Data APBN hingga Mei 2026 menunjukkan pertumbuhan pendapatan negara dan pajak yang signifikan disertai defisit terkendali. Pemerintah terus menjaga kedisiplinan fiskal melalui APBN yang ekspansif dan terukur di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dalam kesimpulan, ekonomi Indonesia tidak dalam keadaan krisis. Pertumbuhan ekonomi yang kuat, inflasi yang terkendali, dan defisit APBN yang masih terkendali menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih stabil dan jauh dari situasi krisis.











