HUKUM

MUI Desak Hukuman Seberat-beratnya untuk Pelaku Penyekapan di Bandung

×

MUI Desak Hukuman Seberat-beratnya untuk Pelaku Penyekapan di Bandung

Share this article
MUI Desak Hukuman Seberat-beratnya untuk Pelaku Penyekapan di Bandung
MUI Desak Hukuman Seberat-beratnya untuk Pelaku Penyekapan di Bandung

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 25 Juni 2026 | Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak aparat kepolisian untuk menjatuhkan sanksi pidana seberat-beratnya dan hukuman maksimal kepada pelaku demi memberikan efek jera atas kasus penyekapan disertai kekerasan yang menimpa YTR di Bandung.

Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga, Siti Ma’rifah, menegaskan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pelaku tidak hanya mencederai korban secara fisik dan psikologis, tetapi juga merupakan bentuk pelanggaran berlapis terhadap tatanan sosial dan spiritual.

📖 Baca juga:
Tragedi Penembakan di Kafe Palembang: Pratu Ferischal Tewas Ditembak Sertu MRN

Menurutnya, hukuman berat kepada terduga pelaku mutlak diberikan guna mendobrak stigma keliru yang sering kali mengakar dalam hubungan asmara yang tidak sehat. Ia menilai sering kali para pelaku kekerasan merasa berhak memperlakukan pasangannya secara semena-mena hanya dengan dalih atas nama cinta atau kedekatan.

Siti Ma’rifah menambahkan bahwa MUI mengimbau generasi muda untuk lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan dari pasangan mereka. Ia juga menekankan pentingnya penguatan nilai agama dan moral di lingkungan keluarga dalam mencegah kasus-kasus kekerasan.

Di lain pihak, MUI juga menyoroti isu LGBT dengan menyinggung faktor keluarga sebagai salah satu pemicu. Salah satu yang disorot adalah fenomena fatherless, yaitu kondisi ketika anak tumbuh tanpa kehadiran atau kedekatan emosional dengan ayah.

Ketua Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga MUI, Siti Ma’rifah, menyebut ketidakseimbangan pola asuh dalam keluarga dapat membuka peluang munculnya penyimpangan perilaku. Ia menjelaskan bahwa ketiadaan figur ayah sering kali membuat anak kehilangan panutan.

📖 Baca juga:
Revisi UU Polri Disahkan, Polisi Aktif Bisa Duduki Jabatan Sipil Tanpa Pensiun Dini

Situasi tersebut dinilai dapat memengaruhi cara anak memahami identitas dirinya, terutama saat proses tumbuh kembang. Siti Ma’rifah menambahkan bahwa anak laki-laki yang lebih banyak berinteraksi dengan ibu tanpa kehadiran ayah berpotensi mengalami kebingungan peran gender.

Hal ini, menurutnya, perlu mendapat perhatian serius dari keluarga. MUI juga mengingatkan bahwa tanggung jawab mendidik anak tidak boleh dibebankan hanya kepada ibu. Peran ayah dinilai sama pentingnya dalam membangun karakter, mental, dan arah hidup anak.

Selain itu, MUI juga mengapresiasi pelaksanaan haji 2026 dengan menyoroti kemajuan yang telah dicapai. Sekretaris Jenderal MUI, Buya Amirsyah, menyampaikan apresiasi dari Ketua Umum MUI KH M Anwar Iskandar terhadap pelaksanaan haji tahun ini.

Dikatakan, haji tahun ini menunjukkan kemajuan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Buya Amirsyah menuturkan apresiasi itu diberikan karena adanya sejumlah perbaikan dalam tata kelola serta pelayanan jemaah selama ibadah haji.

📖 Baca juga:
Kronologi Pemukulan Bro Ron PSI: Miskomunikasi yang Berujung Damai

Keterlibatan para musyrif dini atau pembimbing keagamaan juga memberikan kontribusi penting dalam membantu jemaah menjalankan rangkaian ibadah sesuai tuntunan syariat. Lebih lanjut, dia mengatakan kehadiran para ulama sebagai pembimbing jadi bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan jemaah memperoleh pendampingan keagamaan yang memadai selama berada di Tanah Suci.

Sebagai kesimpulan, MUI terus berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai-nilai agama dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat memahami dan menghindari perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *