Ekonomi

Rupiah Menguat di Tengah Geopolitik yang Tidak Stabil, Apa Yang Terjadi?

×

Rupiah Menguat di Tengah Geopolitik yang Tidak Stabil, Apa Yang Terjadi?

Share this article
Rupiah Menguat di Tengah Geopolitik yang Tidak Stabil, Apa Yang Terjadi?
Rupiah Menguat di Tengah Geopolitik yang Tidak Stabil, Apa Yang Terjadi?

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 10 Juli 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Jumat pagi, bergerak menguat 63 poin atau 0,35 persen. Mata uang garuda menguat menjadi Rp 18.065 per dolar AS (USD) dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 18.128 per USD.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova menyatakan penguatan rupiah dipengaruhi perkembangan positif terkait kondisi geopolitik antara AS dengan Iran yang menurunkan harga minyak. Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat pada kisaran di Rp 18.050 Per USD hingga Rp 18.120 per USD.

📖 Baca juga:
Rupiah Menguat, Ini Penyebabnya

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai fundamental perekonomian Indonesia tetap kuat meski nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Menurutnya, sejumlah indikator utama ekonomi masih menunjukkan kinerja yang terjaga.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 masih baik di 5,61%. Neraca perdagangan year to date juga masih positif. Defisit neraca perdagangan yang terjadi dalam satu bulan terakhir lebih banyak dipengaruhi lonjakan harga impor bahan bakar minyak (BBM) di pasar global, bukan karena melemahnya daya saing ekspor Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis pada perdagangan saham sesi pertama, Jumat, (10/7/2026). Kenaikan IHSG hari ini terjadi di tengah transaksi harian saham hanya Rp 4,7 triliun dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di 18.058.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan di pagi ini akhirnya mengalami penguatan setelah dalam beberapa hari terakhir terus turun. Mengutip data Bloomberg, Jumat, 10 Juli 2026, rupiah hingga pukul 09.28 WIB berada di level Rp18.061 per USD.

📖 Baca juga:
Rebalancing MSCI: Tantangan Baru Bagi IHSG dan Dampaknya terhadap Investasi

Mata uang Garuda tersebut naik 67 poin atau setara 0,37 persen dari Rp18.128 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya. Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp18.085 per USD.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah. "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.120 per USD hingga Rp18.180 per USD," jelas Ibrahim.

Pemerintah juga tengah menyiapkan sejumlah insentif untuk menjaga daya saing industri nasional. Salah satunya berupa pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik yang saat ini tengah difinalisasi melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Selain itu, pemerintah juga akan memberikan tarif bea masuk nol persen untuk impor LPG sebagai bahan baku industri petrokimia selama enam bulan.

Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan kredit perumahan terus berjalan dengan capaian yang dinilai positif. Kondisi sektor perbankan juga disebut tetap sehat, yang menurutnya tercermin dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai dua digit dan penyaluran kredit yang meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.

📖 Baca juga:
Rupiah Menguat di Tengah Fluktuasi Dolar ke Rupiah: Analisis Terbaru dan Faktor Penggerak

Sejumlah lembaga internasional juga masih memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5% pada 2026. Dari berbagai lembaga, baik World Bank, IMF, maupun OECD, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dalam kisaran sekitar 5%.

Dengan demikian, pemerintah optimis bahwa perekonomian Indonesia akan tetap stabil dan tumbuh positif di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *