Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 05 Agustus 2026 | Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dari The Federal Reserve (The Fed) baru-baru ini mengambil keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75%. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi ekonomi AS yang masih tumbuh solid, namun inflasi belum kembali ke target 2% akibat gangguan pasokan dan kenaikan harga energi.
Beberapa pejabat The Fed, seperti Beth Hammack dan Neel Kashkari, menolak keputusan ini karena menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juli. Mereka berpendapat bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan perlu diatasi dengan langkah yang lebih agresif.
Di sisi lain, keputusan untuk mempertahankan suku bunga dianggap tepat oleh beberapa pihak karena ekonomi AS masih tumbuh kuat dan pertumbuhan produktivitas serta investasi modal masih solid. Namun, perlu diingat bahwa ketidakpastian ekonomi masih tinggi, terutama dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah.
Keputusan The Fed ini juga berdampak pada pasar saham, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak volatil setelah hasil pertemuan FOMC diumumkan. Pelaku pasar menantikan hasil pertemuan FOMC untuk memperoleh petunjuk mengenai prospek kebijakan moneter pada sisa tahun ini.
Dalam beberapa hari terakhir, IHSG dibuka melemah, namun masih memiliki potensi untuk rebound jika mampu menembus area resisten tertentu. Namun, jika tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji area support yang lebih rendah.
Kesimpulan dari keputusan The Fed ini adalah bahwa ekonomi AS masih tumbuh solid, namun inflasi belum kembali ke target 2%. The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75% untuk mendukung mandat ganda bank sentral, yaitu menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung kondisi pasar tenaga kerja.











