Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 22 Mei 2026 | Indeks saham Jakarta (JCI) mengalami penurunan tajam pada hari Kamis, dengan penurunan sebesar 3,54% menjadi 6.094,94. Penurunan ini dipicu oleh kebijakan pemerintah terkait pengelolaan ekspor sumber daya alam, yang dianggap akan mengurangi profitabilitas perusahaan swasta dan merugikan pemegang saham.
Menurut Lionel Priyadi, Fixed Income dan Macro Strategist di PT Mega Capital Indonesia, kebijakan pemerintah ini akan mempengaruhi perusahaan swasta yang bergerak di sektor sumber daya alam, seperti pertambangan dan perkebunan. Kebijakan ini juga akan mempengaruhi investor asing yang memiliki saham di perusahaan-perusahaan tersebut.
Pada hari yang sama, indeks saham di Asia lainnya juga mengalami penurunan, seperti Shanghai Composite yang turun 2,04% menjadi 4.007,28, dan Hong Kong's Hang Seng Index yang turun 1,03% menjadi 25.386,52. Namun, indeks saham di Jepang, Nikkei 225, naik 3,10% menjadi 61.658,00.
Di sisi lain, harga minyak dunia juga meningkat akibat ketidakpastian tentang perang di Iran. Harga minyak Brent naik 2,8% menjadi $105,48 per barel, sedangkan harga minyak AS naik 2,3% menjadi $98,58 per barel.
Penurunan indeks saham Jakarta ini juga dipengaruhi oleh sentimen investor yang bearish akibat kebijakan pemerintah. Investor khawatir bahwa kebijakan ini akan mengurangi profitabilitas perusahaan swasta dan merugikan pemegang saham.
Kesimpulan, penurunan indeks saham Jakarta akibat kebijakan pemerintah tentang pengelolaan ekspor sumber daya alam ini menunjukkan bahwa investor harus tetap waspada dan memantau perkembangan kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi pasar saham.











