Ekonomi

Bumi Saham Mengalami Pelemahan, Sentimen Global Masih Dipengaruhi Perkembangan AS-Iran

×

Bumi Saham Mengalami Pelemahan, Sentimen Global Masih Dipengaruhi Perkembangan AS-Iran

Share this article
Bumi Saham Mengalami Pelemahan, Sentimen Global Masih Dipengaruhi Perkembangan AS-Iran
Bumi Saham Mengalami Pelemahan, Sentimen Global Masih Dipengaruhi Perkembangan AS-Iran

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 25 Mei 2026 | Indeks Bisnis-27 dibuka melemah ke level 438,43 pada perdagangan awal pekan Senin (25/5/2026). Pelemahan indeks dipimpin oleh saham-saham berbasis komoditas dan energi seperti BUMI, TAPG, hingga DEWA. Berdasarkan data IDX Mobile per pukul 09.05 WIB, indeks hasil kerja sama Bursa Efek Indonesia dan Harian Bisnis Indonesia itu turun 0,35 poin atau 0,08% ke level 440,74.

Sebanyak 16 saham konstituen bergerak di zona merah, sembilan saham menguat, dan dua saham stagnan. Tekanan terbesar terhadap indeks berasal dari saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang turun 5,41% ke level Rp175. Selanjutnya, saham PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) melemah 4,94% ke level Rp1.540, serta saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) turun 4,76% ke level Rp360.

📖 Baca juga:
Blokade AS di Selat Hormuz Gagal, 2 Kapal Tanker Berbalik Arah dan Dampak Globalnya

Pelemahan juga terjadi pada saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang turun 4,10% ke level Rp1.285 dan PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI) yang terkoreksi 2,55% ke level Rp2.290. Di sisi lain, sejumlah saham perbankan justru menjadi penopang indeks. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) naik 1,97% ke level Rp3.110, disusul PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang menguat 1,69% ke level Rp6.000.

Selain itu, saham PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) naik 1,25% ke level Rp810, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menguat 0,97% ke level Rp4.160, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) naik 0,79% ke level Rp3.810. Sementara itu, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) menjadi salah satu saham dengan penguatan tertinggi setelah naik 4,76% ke level Rp600.

Tim riset Phintraco Sekuritas menjelaskan sentimen global masih dipengaruhi perkembangan hubungan AS dan Iran, khususnya terkait Selat Hormuz dan pergerakan harga minyak dunia. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut tengah disusun kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, klaim tersebut dibantah media pemerintah Iran.

Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan puluhan kapal masih melintasi Selat Hormuz di bawah pengawasan Iran. “Dengan demikian, perkembangan seputar kesepakatan AS-Iran dan dampaknya terhadap harga minyak masih akan memengaruhi pergerakan pasar global,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

📖 Baca juga:
Kejutan di Selat Hormuz: Kapal Gamsunoro Tanpa Kru Indonesia, Semua ABK Berasal dari India

Dari Amerika Serikat, pelaku pasar pekan ini juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting seperti PCE price index, durable goods orders, dan estimasi kedua pertumbuhan PDB kuartal I/2026. Sementara dari domestik, investor diperkirakan bersikap lebih hati-hati menjelang rebalancing MSCI pada akhir Mei di tengah periode perdagangan yang lebih singkat.

Selain itu, pasar juga masih dibayangi ketidakjelasan implementasi sejumlah kebijakan baru pemerintah. “Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak mixed pada rentang 6.000—6.250 sepanjang pekan ini,” tulis Phintraco Sekuritas.

Kondisi tersebut tercermin dari pergerakan ETF EIDO yang relatif mendatar di level 0,08% dan MSCI Indonesia yang turun 0,95%. Dari pasar global, FTSE Russell resmi mengeluarkan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dari indeks Large Cap. Sementara itu, Daaz Bara Lestari (DAAZ), Hillcon (HILL), dan Mulia Industrindo (MLIA) dicoret dari indeks Micro Cap.

FTSE menilai struktur kepemilikan saham DSSA terlalu terkonsentrasi dengan HSC mencapai 95,76%. Adapun DAAZ dianggap belum memenuhi ketentuan minimum saham publik, sedangkan HILL dan MLIA dikeluarkan terkait aktivitas perdagangan yang tidak biasa. Perubahan tersebut berpotensi memicu arus dana asing keluar lebih dari US$2,86 miliar.

📖 Baca juga:
Proposal Iran Tawarkan Buka Selat Hormuz lewat Pakistan, Nuklir Ditunda

Kapitalisasi pasar Indonesia di FTSE juga diperkirakan turun di bawah US$88,15 miliar dengan jumlah emiten dalam indeks menyusut dari 39 menjadi 35 perusahaan. FTSE masih membuka kemungkinan revisi hingga penutupan perdagangan 5 Juni, sebelum komposisi final berlaku efektif pada 22 Juni 2026.

Di tengah ketidakpastian tersebut, investor harus tetap waspada dan memantau perkembangan pasar dengan cermat. Dengan sentimen global yang masih tidak menentu dan ketidakjelasan kebijakan domestik, IHSG diperkirakan akan bergerak mixed dalam beberapa saat ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *