Bisnis

Emiten Properti Pencetak Laba Tertinggi: Dua Perusahaan Milik Aguan

×

Emiten Properti Pencetak Laba Tertinggi: Dua Perusahaan Milik Aguan

Share this article
Emiten Properti Pencetak Laba Tertinggi: Dua Perusahaan Milik Aguan
Emiten Properti Pencetak Laba Tertinggi: Dua Perusahaan Milik Aguan

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 09 Mei 2026 | Dalam beberapa tahun terakhir, industri properti di Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan. Banyak perusahaan properti yang berhasil mencatatkan laba besar, terutama mereka yang fokus pada proyek premium dan kawasan komersial. Dua perusahaan milik Aguan, yaitu PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), berhasil menduduki posisi teratas sebagai emiten properti dengan laba bersih terbesar pada kuartal I-2026.

PANI membukukan laba bersih sebesar Rp 578 miliar, yang meningkat lebih dari 10 kali lipat secara tahunan. Pendapatan perseroan juga melonjak 82 persen menjadi Rp 1,1 triliun, didorong oleh tingginya penjualan proyek di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2. Sementara itu, CBDK mencatatkan laba bersih sebesar Rp 542 miliar, yang tumbuh 317 persen secara tahunan, dengan pendapatan sebesar Rp 743 miliar atau naik 74 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

📖 Baca juga:
30.000 Lowongan Manajer Kopdes Merah Putih Dibuka: Syarat, Jadwal, dan Cara Daftar Resmi

Beberapa emiten properti lainnya, seperti PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), dan PT Pakuwon Group Tbk (PWON), juga mencatatkan kinerja yang baik. CTRA membukukan laba bersih sebesar Rp 518,3 miliar, meskipun turun 21,51 persen secara tahunan. APLN berhasil mencatatkan turnaround signifikan dengan laba bersih Rp 513,8 miliar, berbalik dari rugi bersih pada periode yang sama tahun lalu. PWON melengkapi daftar lima besar dengan laba bersih Rp 389,99 miliar, yang tumbuh 29,31 persen secara tahunan.

📖 Baca juga:
MitraTel Siap Merger Dua Anak Usaha untuk Perkuat Posisi di Pasar Telekomunikasi

Di sisi lain, beberapa emiten BUMN belum memenuhi ketentuan minimal saham free float sebesar 15%. Emiten-emiten tersebut, seperti PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), diberikan masa transisi untuk melakukan penyesuaian. Kondisi ini dinilai berpotensi memicu peningkatan suplai saham di pasar modal dalam beberapa tahun mendatang.

📖 Baca juga:
MSCI Indonesia Gantung Nasib Saham RI: Apa Dampak Reformasi Pasar Modal?

Kesimpulan, industri properti di Indonesia terus menunjukkan geliat positif, dengan beberapa emiten mencatatkan laba besar. Namun, perlu diwaspadai potensi oversupply saham di pasar modal akibat penyesuaian ketentuan free float. Investasi yang tepat dan strategis akan sangat penting untuk memanfaatkan peluang dan menghadapi tantangan di industri ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *