Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 20 April 2026 | Ketegangan antara Rismon, mantan aktivis media daring, dengan mantan menteri komunikasi Roy Suryo serta dokter Tifa kembali mencuat setelah keduanya mengaku tidak dapat menghubungi Rismon selama seminggu terakhir. Roy menegaskan, “Saya sudah mencoba mengirim pesan, menelpon, bahkan lewat media sosial, namun semuanya diblokir,” sementara Tifa menambahkan, “Saya butuh klarifikasi terkait pernyataan saya di program kesehatan, namun tidak ada respons.”
Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui akun media sosialnya, Jahmada Girsang, analis politik yang dikenal kritis terhadap dinamika media online, memberikan penjelasan yang cukup menggelitik. Girsang menyatakan bahwa Rismon memang sengaja memutuskan komunikasi sebagai langkah taktis untuk mengendalikan narasi yang beredar tentang dirinya.
Menurut Girsang, keputusan Rismon tidak bersifat pribadi melainkan strategis. “Rismon memandang bahwa keberadaan Roy dan Tifa di ruang publik dapat menimbulkan spekulasi yang merusak citra gerakan yang ia pimpin,” ujar Girsang. Ia menambahkan bahwa blokir tersebut merupakan upaya menghindari perdebatan yang berpotensi mengalihkan fokus publik dari agenda utama Rismon.
Berbagai pihak menilai langkah ini sebagai tindakan yang “tidak etis”. Pengamat media, Dwi Prasetyo, mengkritik Rismon karena mengabaikan prinsip kebebasan berkomunikasi. “Jika seorang tokoh publik menutup jalur komunikasi, maka pertanggungjawaban atas informasi yang beredar menjadi tidak transparan,” tegas Prasetyo.
- Roy Suryo mengklaim dirinya telah diblokir di semua platform yang dikelola Rismon.
- Dokter Tifa menyatakan kebutuhan klarifikasi medis terhambat karena tidak ada respon.
- Jahmada Girsang menjelaskan motivasi taktik Rismon yang berfokus pada kontrol narasi.
Di sisi lain, pendukung Rismon menanggapi pernyataan Girsang dengan menegaskan bahwa Rismon memiliki hak untuk memilih jalur komunikasi yang dianggap paling aman. Seorang anggota komunitas daring, yang tidak ingin disebutkan namanya, menulis, “Rismon sudah lelah dengan serangan pribadi, jadi memutuskan komunikasi adalah langkah melindungi diri dan timnya.”
Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan tentang peran media sosial dalam politik Indonesia. Sejumlah ahli menyoroti bahwa pemblokiran akun dapat menjadi senjata politik, terutama ketika tokoh-tokoh publik saling bersaing memperebutkan opini publik.
Sejumlah laporan mengindikasikan bahwa Roy Suryo sebelumnya pernah mengkritik kebijakan Rismon terkait regulasi konten daring, sementara Tifa menyinggung isu kesehatan mental yang dianggap menyinggung kelompok tertentu. Kedua pernyataan tersebut diyakini menjadi pemicu utama terjadinya pemutusan komunikasi.</n
Dalam sebuah wawancara eksklusif, Jahmada Girsang menegaskan bahwa Rismon tidak berniat menyinggung pribadi Roy atau Tifa, melainkan berusaha menutup ruang yang dianggap dapat menimbulkan “fitnah berantai”. “Saya rasa Rismon memilih untuk menahan diri demi menjaga integritas gerakan, meskipun cara itu terkesan keras,” ujar Girsang.
Reaksi publik beragam. Di media sosial, hashtag #RismonBlokir menjadi trending selama dua hari berturut‑turut. Beberapa netizen menuntut keterbukaan, sementara yang lain mendukung keputusan Rismon sebagai hak pribadi.
Dalam konteks yang lebih luas, insiden ini menyoroti pentingnya etika komunikasi dalam arena politik digital. Para pengamat menekankan bahwa blokir tidak seharusnya menjadi solusi utama, melainkan dialog terbuka yang dapat mengurangi kesalahpahaman.
Kesimpulannya, Rismon putus komunikasi dengan Roy dan Tifa bukan semata‑mata tindakan pribadi, melainkan strategi yang dipandang oleh beberapa pihak sebagai upaya melindungi narasi gerakan. Jawaban Jahmada Girsang memberikan gambaran bahwa di balik keputusan tersebut terdapat pertimbangan taktis yang kompleks, sekaligus menimbulkan perdebatan tentang etika penggunaan media sosial dalam politik modern Indonesia.











