Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 01 Juni 2026 | Umat Islam sangat dianjurkan untuk memaksimalkan berbagai ibadah di bulan Dzulhijjah, salah satu Asyhurul Hurum dan bulan terakhir dalam kalender Hijriah. Salah satu sunnah yang sangat ditekankan adalah amalan memperbanyak dzikir di 10 hari pertama Dzulhijjah.
Pada 10 hari awal tersebut, terdapat ibadah haji, hari raya Idul Adha, dan yang tak kalah istimewa: sepuluh hari pertama yang disebut sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun. Firman Allah: “Demi fajar, dan malam yang sepuluh” (QS. Al-Fajr: 1-2), yang menurut mayoritas ulama tafsir merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Di sisi lain, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid.” Amalan memperbanyak dzikir di 10 hari pertama Dzulhijjah menjadi bentuk ketaatan dan pengagungan perintah Allah, yang menyebutnya sebagai hari-hari istimewa.
Kalender Hijriah memiliki sistem penghitungan yang berbeda dari kalender Masehi. Menyadur laman IAIN Tuban, kalender Masehi mendasarkan penghitungan pada peredaran Bumi mengitari Matahari, sementara kalender Hijriah mengacu pada peredaran Bulan mengitari Bumi. Kalender Masehi sendiri termasuk kategori kalender solar, sedangkan kalender Hijriah termasuk kategori kalender lunar.
Perbedaan acuan perhitungan tersebut membuat jumlah hari dalam setahun pada kedua kalender tersebut tak sama. Dijelaskan oleh seorang ahli ilmu falak NU, KH Shofiyulloh, kalender Masehi dalam menyatakan panjang satu tahunnya didasarkan siklus tropis Matahari, yaitu 365,2222 hari. Dalam setahun dibagi menjadi 12 bulan.
Dalam perhitungan kalender Masehi Gregori, setiap 4 tahun sekali ada tahun kabisat. Yakni tahun abad (ratusan atau ribuan) baru dianggap tahun kabisat jika habis dibagi 400 tahun. Sementara pada kalender Hijriah, panjang satu tahunnya berdasarkan 12 kali siklus sinodis bulan atau 12 kali fase bulan yang sama/hilal.
Siklus sinodis Bulan bervariasi, rata-ratanya 29,53 hari. Sehingga umur Bulan dalam satu bulan Hijriah terkadang 29 hari, terkadang 30 hari. Tidak tentu, tergantung apakah saat tanggal 29 hilal terlihat atau tidak.
Mengacu pada konversi kalender Hijriah 2026 yang disusun oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI, hari ini, Senin 1 Juni 2026 bertepatan dengan tanggal 15 Dzulhijjah 1447 H. Diketahui, bulan Juni 2026 bertepatan dengan dua bulan Hijriah, yaitu Dzulhijjah dan Muharram.
Kalender Jawa masih menjadi pedoman penting bagi masyarakat, terutama untuk menentukan hari baik, merencanakan acara penting, hingga memahami karakter seseorang melalui weton. Simak kalender Jawa hari ini, Senin 1 Juni 2026, lengkap pasaran, weton, dan watak hari menurut perhitungan tradisional Jawa.
Weton Senin Wage memiliki neptu 8. Neptu weton Senin Wage berasal dari penggabungan nilai hari Senin 4 dan nilai pasara Wage 4. Orang yang lahir Senin Wage dalam kepercayaan Jawa cenderung menghindari situasi memalukan. Pasalnya, mereka suka merencanakan dan menimbang pilihan dengan hati-hati.
Mereka tipe orang yang memiliki kepribadian jujur, mau mendengarkan masalah orang lain, dan memiliki sikap tenang yang membuat mereka tampak meyakinkan. Kelahiran ini cocok menjadi diplomat. Namun, saat marah, mereka sulit menerima alasan dan bisa sangat keras kepala, sehingga lebih baik dibiarkan sendiri menenangkan diri.
Kesimpulan, 10 Dzulhijjah merupakan hari-hari yang sangat istimewa bagi umat Islam. Amalan memperbanyak dzikir di 10 hari pertama Dzulhijjah menjadi bentuk ketaatan dan pengagungan perintah Allah. Kalender Hijriah dan kalender Jawa memiliki sistem penghitungan yang berbeda dari kalender Masehi, namun sama-sama penting dalam menentukan hari baik dan merencanakan acara penting.











