Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 15 April 2026 | Yai Mim, mantan artis sinetron yang sempat mengisi layar kaca dengan peran-peran khas, meninggal dunia pada 13 April 2024 setelah mengalami insiden asfiksia di dalam sel penjara. Sebelum kepergiannya, istri tercintanya, Rosyida, mengungkap sejumlah kebiasaan tak biasa yang pernah dilakukannya selama berada di Lapas Kelas IIB Cipinang. Ungkapan-ungkapan tersebut menyoroti sisi lain dari sang artis yang jarang terlihat publik: sikap ceria, kehangatan, serta ritual‑ritual pribadi yang menjadi penopang mentalnya di tengah kerasnya kehidupan tahanan.
Menurut Rosyida, Yai Mim tidak pernah membiarkan suasana penjara menurunkan semangatnya. Setiap pagi, sebelum menghadap ke petugas, ia selalu meluangkan waktu untuk berdoa di sudut selnya, mengucapkan syukur atas kesempatan hidup yang masih diberikan. “Dia selalu menyapa petugas dengan senyuman, bahkan ketika harus menunggu giliran makan,” ungkap Rosyida di sebuah wawancara. “Kebiasaannya itu, dia suka menata barang-barang pribadinya dengan rapi, seperti menyusun buku dan foto-foto keluarga di atas meja kecil. Itu memberi rasa kontrol di lingkungan yang terbatas.”
Selain ritual spiritual, Yai Mim dikenal memiliki kebiasaan unik yang menambah warna dalam kesehariannya. Ia suka menulis puisi pendek di selembar kertas bekas, yang kemudian ia lipat‑lipat dan simpan dalam laci. Puisi‑puisi itu, kata istri, berisi tentang harapan kembali ke panggung, kenangan bersama anak‑anak, serta rasa terima kasih kepada orang‑orang yang selalu mendukungnya. “Bahkan ketika ada peristiwa yang membuatnya tertekan, dia tetap menulis. Itu cara dia melampiaskan perasaan,” tambah Rosyida.
Tak hanya menulis, Yai Mim juga mengembangkan kebiasaan berolahraga ringan. Setiap sore, ia berkeliling blok penjara dengan langkah cepat, seolah‑olah sedang berlari di arena film. “Dia menganggap itu sebagai latihan untuk menjaga kebugaran tubuh dan pikiran. Saya pernah melihatnya melakukan push‑up di sudut lapangan kecil,” kata Rosyida. Kebiasaan ini, menurutnya, membantu mengurangi rasa stres yang biasanya dialami narapidana.
Namun, di balik kebiasaan positif tersebut, terdapat satu permintaan tak biasa yang pernah disampaikan Yai Mim kepada istri sebelum meninggal. Rosyida mengaku, pada satu malam menjelang hari terakhirnya, suaminya meminta agar setelah wafat, jenazahnya tidak langsung dimasukkan ke dalam peti, melainkan diletakkan di atas alas putih dan diberi bunga mawar merah. Permintaan itu, kata Rosyida, adalah simbol keinginan Yai Mim agar “cinta dan kehangatan keluarga tetap terasa hingga detik terakhir”.
Pernyataan tersebut menambah dimensi emosional pada peristiwa tragis yang menimpa Yai Mim. Pada 13 April, saat sedang berada di sel, ia tiba‑tiba terjatuh dan tidak dapat bernafas dengan baik. Upaya pertolongan pertama oleh petugas medis penjara tidak berhasil, dan ia dinyatakan meninggal karena asfiksia. Kejadian tersebut memicu perdebatan publik mengenai standar kesehatan dan keselamatan di lembaga pemasyarakatan Indonesia.
Para pakar hukum dan hak asasi manusia menilai bahwa insiden ini menyoroti perlunya peningkatan fasilitas medis di penjara, terutama dalam penanganan keadaan darurat. “Kasus ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur kesehatan di Lapas, termasuk pelatihan petugas untuk penanganan asfiksia,” ujar seorang aktivis HAM.
Di sisi lain, komunitas penggemar Yai Mim turut berduka. Banyak yang mengingat kembali karya‑karya aktingnya, mulai dari sinetron populer hingga peran cameo dalam film. Mereka menilai bahwa sikap ceria dan kebiasaan positif yang ditunjukkan di penjara menjadi pelajaran berharga tentang ketabahan dalam menghadapi cobaan hidup.
Rosyida, yang kini harus melanjutkan hidup tanpa suami, menutup pernyataannya dengan harapan agar cerita Yai Mim dapat menginspirasi orang lain. “Saya ingin orang‑orang mengerti bahwa di balik dinding penjara, ada manusia yang tetap berjuang mencari arti hidup. Semoga kisahnya menjadi pengingat untuk selalu menghargai setiap detik kebersamaan,” ujarnya dengan mata berkaca‑kaca.
Kasus Yai Mim meninggalkan pertanyaan penting mengenai kesejahteraan narapidana, peran keluarga dalam proses rehabilitasi, serta pentingnya menjaga martabat manusia di lingkungan penjara. Sementara itu, kenangan tentang kebiasaan ceria dan semangatnya tetap hidup dalam ingatan keluarga, sahabat, dan para penggemar setia.











