Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 28 April 2026 | Teheran mengirimkan proposal Iran baru kepada Washington melalui Islamabad pada akhir pekan, menandai langkah diplomatik yang tidak konvensional di tengah kebuntuan antara kedua negara. Proposal tersebut menekankan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai prioritas utama, sementara negosiasi mengenai program nuklir Iran ditunda ke tahap selanjutnya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan dokumen kepada pejabat Pakistan pada kunjungan singkatnya ke Islamabad. Menurut sumber yang dekat dengan proses diplomatik, Iran berharap peran Islamabad sebagai mediator dapat mempercepat pencairan tekanan ekonomi yang ditimbulkan oleh blokade laut AS.
Dalam isi proposal, Iran menawarkan gencatan senjata yang lebih lama dan mengusulkan pencabutan blokade laut di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi titik tumpu utama tekanan Amerika Serikat terhadap ekspor minyak Iran. Sebagai balasannya, Tehran menunda pembahasan isu inti nuklir, termasuk penghentian pengayaan uranium yang menjadi tuntutan utama Washington.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menanggapi melalui wawancara dengan Fox News, menegaskan bahwa blokade laut tetap menjadi alat tawar utama AS. “Ketika aliran minyak besar tidak bisa disalurkan ke kapal atau kontainer, tekanan dari dalam bisa meledak. Mereka hanya punya waktu sekitar tiga hari sebelum itu terjadi,” ujarnya. Trump menambahkan bahwa proposal tersebut masih dianggap kurang memadai untuk mengakhiri konflik secara keseluruhan.
Menurut pejabat Gedung Putih yang diwawancarai oleh Axios, tim senior keamanan nasional AS berencana mengadakan rapat di Situation Room pada Senin untuk membahas langkah selanjutnya. Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menegaskan posisi Amerika bahwa negosiasi tetap sensitif dan tidak akan mengorbankan kepentingan keamanan nasional.
Langkah Iran mengedepankan pembukaan Selat Hormuz sebelum membahas nuklir mencerminkan strategi “memotong jalur rumit” dalam perundingan. Kepemimpinan Iran sendiri terpecah soal sejauh mana konsesi nuklir dapat diberikan, sehingga menawarkan prioritas ekonomi dapat memperkuat posisi Tehran di meja perundingan.
Pakistan, yang telah menjadi perantara dalam beberapa inisiatif sebelumnya, kini berperan sebagai penyampai pesan sekaligus fasilitator dialog. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengadakan pertemuan dengan Araghchi, tetapi delegasi AS yang direncanakan—Steve Witkoff dan Jared Kushner—tidak melanjutkan kunjungan setelah Iran menolak pertemuan langsung.
Berikut poin utama proposal Iran:
- Pembukaan kembali Selat Hormuz untuk mengakhiri blokade laut.
- Perpanjangan gencatan senjata dengan kemungkinan penghentian permanen.
- Penundaan negosiasi nuklir ke tahap berikutnya setelah langkah ekonomi tercapai.
Para analis menilai bahwa jika Amerika Serikat menerima proposal tersebut, tekanan ekonomi pada Iran akan berkurang, namun daya tawar Washington dalam menuntut penghentian program nuklir dapat melemah. Sebaliknya, penolakan dapat memperpanjang konflik dan menambah ketidakstabilan di kawasan Teluk.
Kesimpulannya, proposal Iran menempatkan isu ekonomi—terutama akses ke Selat Hormuz—di atas agenda nuklir, menguji fleksibilitas kebijakan luar negeri Amerika Serikat di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang semakin kompleks.











