Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 08 Mei 2026 | Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan prihatin atas serangan terhadap kapal perusahaan Prancis di Selat Hormuz. Ia menyampaikan keprihatinan tersebut kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Macron menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil Uni Emirat Arab (UEA) dan kapal-kapal di dekat Selat Hormuz adalah “tidak dapat dibenarkan”.
Sebelumnya, sebuah kapal milik perusahaan Prancis, CMA CGM San Antonio, menjadi target serangan di Selat Hormuz. Serangan tersebut menyebabkan cedera pada beberapa awak kapal dan kerusakan pada kapal. Perusahaan pelayaran Prancis tersebut melaporkan bahwa serangan terjadi pada Selasa (5/5) waktu setempat.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya meluncurkan operasi militer “Project Freedom” untuk mengawal kapal-kapal meninggalkan Selat Hormuz. Namun, operasi tersebut dihentikan sementara oleh Trump setelah sekutu utama AS di Teluk menangguhkan izin untuk menggunakan pangkalan dan wilayah udaranya.
Prancis kemudian mengirimkan kapal induk ke Selat Hormuz untuk misi pertahanan. Langkah ini merupakan misi damai dan tidak terkait dengan AS. Presiden Macron menyatakan bahwa misi tersebut bertujuan untuk memulihkan keamanan maritim di Selat Hormuz sesegera mungkin ketika kondisi memungkinkan.
Kapal induk Prancis, Charles de Gaulle, beserta kapal-kapal pengawalnya diposisikan lebih dekat ke selat yang penutupan efektifnya telah menjadi simbol utama perang di Iran. Upaya pertahanan ini berbeda dari operasi AS “Project Freedom” yang dihentikan sementara oleh Trump.
Prancis dan Inggris berencana untuk meluncurkan misi gabungan di Selat Hormuz untuk memulihkan keamanan maritim. Misi ini diharapkan dapat membantu memulihkan kepercayaan para pemilik kapal dan perusahaan asuransi.
Dalam pengumuman terbaru, Trump mengatakan bahwa operasi “Project Freedom” dihentikan sementara untuk melihat apakah kesepakatan untuk menyelesaikan perang dapat diselesaikan dan ditandatangani. Sementara itu, Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz aman setelah Trump menghentikan operasi AS.
Kesimpulan, situasi di Selat Hormuz masih sangat genting dan memerlukan upaya diplomatik untuk menyelesaikan perang antara Iran dan AS. Prancis dan Inggris berencana untuk meluncurkan misi gabungan untuk memulihkan keamanan maritim di selat tersebut. Sementara itu, AS menghentikan sementara operasi “Project Freedom” untuk melihat apakah kesepakatan untuk menyelesaikan perang dapat diselesaikan dan ditandatangani.











