Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 07 Mei 2026 | Pertemuan antara delegasi Iran dan China telah mendapatkan perhatian dari Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memohon kepada Tiongkok untuk menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz, sebuah jalur vital bagi pengiriman energi global.
Menlu Iran, Abbas Araghchi, telah melakukan kunjungan ke Beijing, China, untuk bertemu dengan Menlu Wang Yi. Dalam pertemuan tersebut, Araghchi membahas hubungan bilateral, serta perkembangan regional dan internasional dengan mitranya dari China.
China merupakan salah satu importir utama minyak Iran, meski ada sanksi yang dijatuhkan AS dalam upaya menekan sumber pendapatan Teheran. Kunjungan Araghchi juga dilakukan saat AS mengklaim operasi militer Epic Fury sudah selesai.
Menlu AS Marco Rubio mengatakan, negaranya sudah menyelesaikan operasi ofensifnya terhadap Iran. "Operasi telah berakhir. Seperti yang diberitahukan Presiden kepada Kongres. Kita sudah selesai dengan tahap itu," jelas Rubio kepada wartawan di Gedung Putih.
Sebelumnya, Gedung Putih telah memberi tahu para anggota parlemen bahwa perang telah berakhir karena gencatan senjata. Ini berarti menghindari persyaratan hukum untuk meminta Kongres mengesahkan konflik yang berlangsung lebih dari 60 hari.
Meski demikian, Trump masih mengancam Iran dengan pembalasan besar jika menyerang kapal-kapal AS di Selat Hormuz. Israel dan AS menyerang Iran pada 28 Februari 2026, menewaskan para pemimpin dan menghancurkan situs-situs militer dan ekonomi utama.
Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone di seluruh wilayah. Pada 8 April lalu, Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran yang telah diperpanjangnya, meski negosiasi dengan Teheran masih buntu.
Terkait kunjungan Araghchi, Rubio mendesak China untuk menekan Iran agar melonggarkan kendalinya atas Selat Hormuz, yang diblokade Teheran selama perang. "Saya berharap China menyampaikan kepadanya (Araghchi), yang Iran lakukan di selat itu justru membuat mereka semakin terisolasi secara global," ujar Rubio.
Di sisi lain, China juga menyerukan kelanjutan perundingan untuk mengakhiri perang antara AS-Israel dan Iran dalam pembicaraan dengan Menlu Iran, Abbas Araghchi, di Beijing. Pertemuan kedua menteri itu berlangsung sekitar sepekan sebelum Presiden AS Donald Trump melakukan kunjungan ke China untuk bertemu Presiden China Xi Jinping.
Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri China, Wang mengatakan Beijing menginginkan "gencatan senjata segera dan menyeluruh. Wang juga meyakini bahwa "semakin penting untuk tetap berpegang pada jalur negosiasi”.
Araghchi, dalam kunjungan pertamanya ke China sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, memaparkan perkembangan terbaru dalam perundingan antara Teheran dan Washington. Ia menegaskan bahwa Iran akan dengan tegas menjaga kedaulatan dan martabat nasionalnya, menurut kementerian tersebut.
Menteri luar negeri Iran itu mengatakan kepada Wang, "Kami hanya akan menerima kesepakatan yang adil dan komprehensif.” Ia juga menyampaikan apresiasi atas sikap Beijing dan menyebut China sebagai "sahabat dekat” Iran, menurut Iranian Students' News Agency.
Lebih lanjut, Wang juga menyatakan bahwa China bersedia memainkan peran yang lebih besar dalam mendorong perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, serta mendesak pihak-pihak terkait untuk segera merespons seruan kuat komunitas internasional guna memulihkan jalur pelayaran yang normal dan aman melalui Selat Hormuz.
Diplomat China itu menambahkan bahwa Beijing mengapresiasi komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, sembari mengakui hak sah Teheran atas penggunaan energi nuklir secara damai.
Kesimpulan, pertemuan antara delegasi Iran dan China telah memicu reaksi dari Amerika Serikat. Menlu AS Marco Rubio memohon kepada Tiongkok untuk menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz. Sementara itu, China menyerukan kelanjutan perundingan untuk mengakhiri perang antara AS-Israel dan Iran.











