Internasional

Konflik Palestina: Dari Ancaman AS hingga Penderitaan Rakyat

×

Konflik Palestina: Dari Ancaman AS hingga Penderitaan Rakyat

Share this article
Konflik Palestina: Dari Ancaman AS hingga Penderitaan Rakyat
Konflik Palestina: Dari Ancaman AS hingga Penderitaan Rakyat

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 23 Mei 2026 | Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengancam akan mencabut visa delegasi Palestina untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) jika Duta Besar Palestina Riyad Mansour tidak membatalkan pencalonannya sebagai wakil presiden Majelis Umum PBB. Ancaman tersebut terungkap dalam sebuah memo internal Departemen Luar Negeri AS yang bocor ke publik.

Dokumen bertanggal 19 Mei 2026 ini menginstruksikan para diplomat AS di Yerusalem untuk segera menekan pejabat Palestina. Memo tersebut memperingatkan bahwa konsekuensi akan menyusul jika Otoritas Palestina (PA) tidak menarik pencalonan itu. AS mengancam akan meninjau ulang keputusan September 2025 yang mencabut sanksi visa bagi pejabat Palestina di New York.

📖 Baca juga:
Israel Kirim Iron Beam: Laser Canggih untuk Hancurkan Drone dan Rudal Iran di UEA

Posisi wakil presiden majelis memungkinkan Mansour memimpin sesi perdebatan tingkat tinggi terkait isu Timur Tengah. Mansour sendiri dikenal sebagai tokoh yang sangat kritis terhadap pemerintah Israel. AS khawatir pencalonan Mansour dapat mengganggu rencana perdamaian Gaza yang diusung oleh Presiden AS Donald Trump.

Sementara itu, Wakil Tetap Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, mengatakan bahwa Israel terus melancarkan kekerasan terhadap warga sipil Palestina melalui pasukan militer maupun pemukim ilegal. Mansour memberikan peringatan keras agar komunitas internasional tidak menjadi terbiasa melihat warga Palestina terbunuh.

Mansour menegaskan di hadapan Dewan Keamanan PBB bahwa tidak ada alasan yang dapat membenarkan hukuman kolektif terhadap lebih dari dua juta warga Palestina. Ia menambahkan bahwa bantuan kemanusiaan tidak boleh bersyarat, dijadikan alat tawar, ataupun digunakan sebagai senjata perang.

📖 Baca juga:
Israel Kepung Lebanon: Pasukan Mengelilingi Kota Penting di Selatan, Ribuan Warga Kembali di Tengah Gencatan Senjata

Di lain pihak, para aktivis dari armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang sempat ditahan oleh militer Israel di perairan internasional mengatakan bahwa kekerasan dan perlakuan buruk yang mereka alami belum sebanding dengan penderitaan panjang rakyat Palestina.

Aktivis asal Kanada, Ehab Lotayef, menceritakan kronologi penyerangan yang dialaminya sembari menunjukkan tangannya yang dibalut perban. Lotayef menjelaskan bahwa insiden bermula saat seorang tentara Israel meminta bantuannya untuk menerjemahkan percakapan, namun tentara lain merasa tidak senang ketika melihat dirinya membantu sesama tahanan.

Kementerian Kebudayaan melakukan penjajakan peluang kolaborasi pelestarian warisan budaya dan museum budaya Palestina dengan akademisi dari Palestina. Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat melakukan pertemuan dengan akademisi asal Palestina yakni Shofwan Al Banna Choiruzzad bersama Dr. Thoriq, dan Dr. Saleh di Jakarta.

📖 Baca juga:
Skandal D4vd dan Gelombang Tindakan Amerika: Dari Pembunuhan di Tesla hingga Operasi Militer Global

Shofwan Al Banna Choiruzzad menyampaikan apresiasi atas penerimaan yang diberikan Kementerian Kebudayaan. Selanjutnya, Dr. Thoriq, yang berdomisili di Ramallah, menjelaskan bahwa yayasan yang mereka kelola memiliki tiga misi utama, yaitu perlindungan dan preservasi artefak serta warisan budaya Palestina, pemberdayaan masyarakat lokal, dan penguatan edukasi agar masyarakat memiliki ketahanan dalam memperjuangkan keadilan.

Konflik Palestina telah berlangsung lama dan menyebabkan penderitaan besar bagi rakyat Palestina. Diperlukan upaya internasional untuk mengakhiri konflik ini dan memastikan hak-hak rakyat Palestina terlindungi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *