Daerah

Inovasi Pengelolaan TPS di Surabaya: Dari Titip Sampah Hingga Pengambilan Dari Dalam Rumah

×

Inovasi Pengelolaan TPS di Surabaya: Dari Titip Sampah Hingga Pengambilan Dari Dalam Rumah

Share this article
Inovasi Pengelolaan TPS di Surabaya: Dari Titip Sampah Hingga Pengambilan Dari Dalam Rumah
Inovasi Pengelolaan TPS di Surabaya: Dari Titip Sampah Hingga Pengambilan Dari Dalam Rumah

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 15 April 2026 | Surabaya kini menjadi sorotan nasional karena transformasi tempat pengolahan sampah (TPS) yang tidak lagi sekadar menjadi tumpukan limbah, melainkan pusat inovasi pengelolaan dan edukasi lingkungan. Kebijakan terbaru yang mengharuskan warga menyiapkan sampah di dalam rumah sebelum diambil oleh petugas mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan sampah sehari-hari.

Langkah ini terinspirasi dari keberhasilan program serupa yang diterapkan di Sanur Kaja, Denpasar. Di sana, Ketua Koordinator TPS3R Cemara Desa Sanur Kaja, Nyoman Suandiana, mengumumkan perubahan sistem pengangkutan sampah setelah terdeteksi maraknya kebiasaan warga menumpuk sampah di pinggir jalan. “Sudah kami instruksikan untuk pilah sampah di dalam. Nanti pengangkutnya yang ambil ke dalam,” ujarnya dalam wawancara.

📖 Baca juga:
Bekasi Bergelora: Haji Massal, Kontroversi Bullying, Ikan Sapu-sapu, dan Proyek Energi Bersih Mengguncang Kota

Berbeda dengan praktik tradisional yang mengandalkan penempatan sampah di luar rumah, model baru ini menekankan pada pemilahan di sumbernya. Warga diwajibkan memisahkan organik, anorganik, serta bahan berbahaya seperti kaca dan beling, lalu menandai kantongnya sesuai kategori. Sistem ini tidak hanya mengurangi penumpukan sampah di sekitar area pemukiman, tetapi juga mempercepat proses pemrosesan di TPS.

Di Surabaya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kota mengadopsi prinsip yang sama. Sejak awal tahun 2026, tiga wilayah percontohan – Rungkut, Genteng, dan Karang Pilang – telah meluncurkan program “Ambil Dari Dalam Rumah” (ADDR). Setiap rumah tangga yang terdaftar harus menyiapkan kantong sampah yang telah dipilah dan diberi label warna. Petugas pengangkut, yang dilengkapi dengan kendaraan khusus, akan memasuki kompleks perumahan pada jam kerja yang telah ditentukan, mengambil sampah langsung dari pintu masuk rumah.

Berikut langkah-langkah utama yang diterapkan dalam program ADDR:

  • Pendaftaran Warga: Setiap rumah tangga mendaftar secara daring atau melalui pos pelayanan DLH. Data meliputi jumlah anggota keluarga dan tipe sampah yang dihasilkan.
  • Pemilahan di Sumber: Warga memisahkan sampah organik, plastik, kertas, logam, kaca, serta bahan berbahaya (baterai, cat).
  • Pengecatan dan Penandaan: Kantong sampah diberi kode warna – hijau untuk organik, biru untuk plastik/kertas, kuning untuk logam, merah untuk bahan berbahaya.
  • Pengangkutan Terjadwal: Tim pengangkut tiba antara pukul 05.30-13.00 WITA, mengumpulkan kantong sesuai kode warna, lalu membawa ke TPS terdekat untuk proses daur ulang.
  • Monitoring dan Evaluasi: DLH menggunakan aplikasi seluler untuk melacak volume sampah yang diangkut, memudahkan penyesuaian jadwal dan alokasi sumber daya.

Implementasi ADDR di Surabaya tidak lepas dari tantangan. Beberapa pemilik kos-kosan dilaporkan masih mengabaikan tanggung jawab pengelolaan sampah penghuninya, mirip dengan temuan Suandiana di Sanur Kaja. “Pemilik harus memasukkan biaya kebersihan dalam sewa dan memastikan pemilahan dilakukan,” tegas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, Dr. Rina Suryani.

📖 Baca juga:
Kapolsek Dicopot, Warga Bakar Rumah Diduga Bandar Narkoba: Polri Bentuk Kampung Anti Narkoba di Panipahan

Untuk mengatasi hambatan tersebut, DLH Surabaya menggandeng asosiasi pengelola properti dan menyediakan pelatihan singkat bagi pemilik kos. Selain itu, insentif berupa potongan retribusi bulanan diberikan kepada penghuni yang secara konsisten mematuhi prosedur pemilahan.

Masalah teknis juga muncul. Pada bulan April 2026, mesin pemrosesan sampah baru di TPS3R Sanur Kaja mengalami kerusakan dinamo senilai Rp 20 juta, menyebabkan penumpukan sementara. Pengalaman ini menjadi pelajaran bagi Surabaya untuk memperkuat perencanaan pemeliharaan peralatan. Oleh karena itu, DLH Surabaya telah menyusun jadwal perawatan berkala dan menyiapkan dana cadangan guna mengantisipasi kerusakan tak terduga.

Hasil awal dari program ADDR menunjukkan peningkatan signifikan dalam tingkat pemilahan sampah. Data internal DLH mencatat bahwa pada kuartal pertama pelaksanaan, volume sampah organik yang berhasil diangkut berkurang 30% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara persentase plastik yang masuk daur ulang naik menjadi 45%.

Warga pun merespon positif. “Saya dulu sering menumpuk sampah di depan rumah, tapi sekarang jadi lebih teratur. Anak‑anak juga belajar memilah sampah sejak dini,” kata Ibu Sari, seorang ibu rumah tangga di kawasan Rungkut.

📖 Baca juga:
Warga Sukoharjo Relakan Kasur & Perabotan Usai Banjir Oli: Ini Alasan dan Upaya Kompensasi PO SAN

Keberhasilan Surabaya dalam mengubah fungsi TPS menjadi pusat edukasi dan aksi lingkungan memberikan contoh bagi kota‑kota lain di Indonesia. Dengan mengintegrasikan teknologi, edukasi, dan kolaborasi antar‑pemangku kepentingan, kota ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi motor pertumbuhan berkelanjutan, bukan sekadar beban administratif.

Ke depan, Dinas Lingkungan Hidup Surabaya berencana memperluas program ADDR ke seluruh wilayah kota dan mengintegrasikan sistem digital yang memungkinkan warga memantau kontribusi pribadi mereka dalam upaya daur ulang. Jika berhasil, model ini berpotensi menjadi standar nasional dalam pengelolaan sampah perkotaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *