Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 11 Mei 2026 | Iran dilaporkan telah menyerang kapal tanker minyak milik Qatar pada Sabtu (9/5/2026) malam waktu setempat. Serangan dilakukan karena kapal itu telah melanggar blokade Selat Hormuz yang dilakukan Iran. Serangan tersebut menyebabkan kebakaran kecil di beberapa area kapal. Namun, kobaran api kini sudah dipadamkan.
Otoritas Qatar menjelaskan, tidak ada korban jiwa imbas insiden tersebut. Awalnya, tidak ada yang mengetahui siapa dalang di balik serangan terhadap kapal tanker milik Qatar. Namun, tidak lama usai serangan terjadi, Juru Bicara pasukan militer Iran, Mohammad Akraminia, mengakui bahwa pihaknya berada di balik serangan itu.
Kapal minyak Qatar yang diserang Iran tadi bernama Al Kharaitiyat. Kapal itu dikabarkan akan mengirim minyak dari Qatar ke Pakistan. Ini merupakan ekspor minyak pertama yang dilakukan Qatar sejak perang Iran pecah pada Februari. Sebelumnya, kapal Al Kharaitiyat sudah diisi minyak di fasilitas minyak Ras Laffan.
Ras Laffan sendiri merupakan salah satu fasilitas minyak terbesar milik Qatar. Fasilitas minyak ini pernah diserang oleh Iran pada Maret lalu. Dalam perjalanan menuju Pakistan, kapal Al Kharaitiyat dikabarkan akan melakukan transit di Oman. Namun beberapa sumber menyebut bahwa kapal akan transit di pelabuhan Iran.
Iran saat ini masih memblokade Selat Hormuz. Iran sendiri mulai memblokade Selat Hormuz sejak 28 Februari lalu. Blokade ini dilakukan sebagai balasan atas serangan AS dan Israel di Ibu Kota Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Pada 17 April, Iran sebetulnya sudah membuka kembali Selat Hormuz secara penuh sebagai balasan karena AS bersedia menyetujui gencatan senjata. Namun, sehari setelahnya, Iran memutuskan untuk menutup lagi selat tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk protes Iran karena AS tetap memblokade pelabuhan miliknya meski sudah ada gencatan senjata.
Iran telah mengancam akan membalas serangan terhadap kapal tankernya setelah dua kapal berbendera Iran ditembaki jet tempur Amerika di Teluk Oman, memperburuk ketegangan kawasan. Qatar dan Pakistan berperan sebagai mediator utama antara Washington dan Teheran, sementara citra satelit menunjukkan tumpahan minyak besar di sekitar Pulau Kharg, Iran.
Ketegangan turut meluas ke Lebanon setelah serangan udara Israel menewaskan sembilan orang, memicu respons drone dari Hizbullah menjelang rencana perundingan di Washington. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap tanker minyak dan kapal komersial milik Iran akan memicu "serangan besar-besaran" terhadap posisi AS dan kapal-kapal musuh di wilayah tersebut.
Menurut para ahli, Iran dengan "armada nyamuk"-nya yang terdiri dari ratusan kapal dapat secara efektif melawan Angkatan Laut AS di Selat Hormuz dan Teluk Persia. "Armada nyamuk" tersebut terdiri dari sekitar 20 kapal selam mini kelas Ghadir dan beberapa ribu kapal cepat rudal serta kapal serang.
Kesimpulan, situasi di Selat Hormuz semakin memanas setelah kapal tanker minyak Qatar diserang Iran. Serangan tersebut telah meningkatkan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, serta memicu ancaman balasan dari Korps Garda Revolusi Islam. Perangkat perdamaian masih terus dilakukan, namun hasilnya belum dapat diprediksi.











