Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 09 Mei 2026 | Bank Indonesia (BI) telah melaporkan bahwa posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir April 2026 mengalami penyusutan tipis. Posisi cadev RI parkir di level 146,2 miliar dolar AS atau setara dengan Rp2.539 triliun. Angka ini mengalami penurunan sebesar Rp34,7 triliun dibandingkan posisi pada akhir Maret 2026 yang sempat menyentuh 148,2 miliar dolar AS.
Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny, mengungkapkan bahwa penurunan ini merupakan konsekuensi dari langkah strategis otoritas moneter dalam menjaga stabilitas di tengah gejolak pasar. "Perkembangan ini dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan global bond pemerintah di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah," ujar Denny.
Bank Indonesia juga mencatat bahwa Indonesia telah merekam inflow asing sebesar US$3,3 miliar dari Januari hingga April, didorong oleh inflow ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) saat bank sentral memperkuat upaya untuk menstabilkan Rupiah di tengah volatilitas pasar global.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa inflow tersebut mengikuti outflow bersih sebesar US$1,7 miliar di kuartal pertama 2026. "Year-to-date, inflow ke SRBI mencapai 78,1 triliun rupiah, sementara outflow saham totalnya sebesar 38,6 triliun rupiah," katanya.
Bank Indonesia juga telah mengambil langkah-langkah strategis untuk memperkuat struktur suku bunga SRBI guna menarik inflow asing dan mendukung stabilisasi Rupiah. Langkah-langkah tersebut termasuk intervensi di pasar valas, baik di dalam negeri maupun luar negeri, serta memanfaatkan cadangan devisa yang tersedia.
Presiden Prabowo Subianto telah memanggil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Gubernur BI Perry Warjiyo untuk memperkuat koordinasi kebijakan dan meredam volatilitas nilai tukar. Perry Warjiyo juga telah menjelaskan bahwa BI telah menyiapkan tujuh langkah strategis yang mendapat dukungan Presiden.
Di sisi lain, OCBC juga telah mengumumkan bahwa anak perusahaannya, Bank OCBC NISP, akan mengakuisisi operasi ritel dan manajemen kekayaan HSBC di Indonesia. Akuisisi ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan OCBC dalam menghadapi persaingan di pasar keuangan Indonesia.
Kesimpulan, Bank Indonesia terus berupaya untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat Rupiah di tengah gejolak pasar global. Dengan strategi baru dan langkah-langkah yang telah diambil, BI yakin bahwa perekonomian Indonesia akan tetap stabil dan tumbuh secara berkelanjutan.











