Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 05 Mei 2026 | Jakarta, 5 Mei 2026 – Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ade Armando, mengumumkan pengunduran dirinya secara resmi pada konferensi pers di kantor DPP PSI, Jakarta Pusat. Keputusan tersebut diambil setelah 40 organisasi masyarakat melaporkan dirinya ke Bareskrim Polri terkait dugaan penghasutan dan ujaran kebencian yang muncul dari potongan video ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla.
Ade menegaskan bahwa pengunduran dirinya bukan karena konflik internal dengan partai, melainkan demi melindungi PSI dari dampak negatif polemik yang dapat menyeret nama partai menjelang pemilihan umum 2029. “Tidak ada konflik di antara saya dengan PSI, tapi saya mundur demi kebaikan bersama,” ujar ia di hadapan wartawan.
Dalam pernyataannya, Ade menyoroti tiga faktor utama yang mendorong keputusan tersebut:
- Serangkaian laporan yang diajukan oleh 40 ormas Islam, termasuk Aliansi Profesi Advokat Maluku dan LBH Syarikat Islam, yang menuduhnya memprovokasi, menghasut, serta menodai agama melalui video yang diunggah di kanal Cokro TV.
- Penekanan bahwa konten yang ia produksi tidak berada di bawah arahan atau pengetahuan PSI, melainkan merupakan kerja jurnalistik pribadi bersama timnya.
- Kekhawatiran bahwa serangan kini tidak hanya ditujukan kepadanya, melainkan meluas ke kader lain, termasuk Grace Natalie, sehingga menimbulkan tekanan politik pada partai.
Ade menolak semua tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar. Ia menegaskan, “Tidak ada satupun pelaporan yang dapat saya terima sebagai kebenaran; sebagian besar adalah fitnah.” Meski demikian, ia menyatakan kesiapan untuk menghadapi proses hukum bila dipanggil polisi.
Selain menanggapi isu hukum, Ade juga memberikan gambaran singkat mengenai latar belakang akademis dan karier jurnalistiknya. Lahir di Jakarta pada 24 September 1961, ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Bogor, kemudian melanjutkan studi Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Ia memperoleh gelar magister Ilmu Komunikasi serta Master of Science dalam Population Studies dari Florida State University, Amerika Serikat, dan menyelesaikan doktoralnya di UI pada tahun 2006.
Karier jurnalistik Ade dimulai pada 1980-an, meliputi posisi redaktur di Jurnal Prisma, LP3ES, serta harian Republika. Ia juga pernah menjabat sebagai Manajer Riset Media di Taylor Nelson Sofres dan Direktur Media Watch & Consumer Center. Di dunia akademik, ia menjadi dosen tetap FISIP UI sejak 1990-an dan pernah memimpin Program Studi S1 Ilmu Komunikasi pada periode 2001‑2003.
Dalam konteks politik, Ade bergabung dengan PSI sebagai kader, bukan sebagai pengurus partai. Ia menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan kepada tokoh publik, termasuk Jusuf Kalla, merupakan pandangan pribadi yang tidak melibatkan atau mendapat persetujuan partai. “Saya mengkritik Pak Jusuf Kalla karena pandangan kami berbeda, bukan untuk menodai agama,” jelasnya.
Pada saat yang sama, Ade mengungkap adanya surat-surat yang dikirimkan kepada Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali, dari kelompok-kelompok yang menolak keberadaannya di PSI. Surat-surat tersebut berisi ancaman bahwa dukungan terhadap PSI akan hilang bila Ade tetap berada dalam partai. Ia menilai ini sebagai upaya terkoordinasi untuk “menghancurkan” PSI lewat serangan personal.
Pengunduran diri Ade juga mendapat sorotan dari sejumlah lembaga hukum. Aliansi Profesi Advokat Maluku (APAM) melaporkan Ade serta Permadi Arya ke Polda Metro Jaya dengan nomor LP/B/2767/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA. Sementara itu, Persatuan Ormas Islam untuk Kerukunan Umat Beragama mengirimkan laporan polisi dengan nomor LP/B/185/V/2026/SPKT/BARESKRIM POLRI, menuduh ketiga tokoh tersebut memutar‑putar video ceramah JK sehingga menimbulkan persepsi keliru di publik.
Ade menutup konferensi pers dengan menegaskan kembali keputusannya. “Saya mundur, namun saya tetap siap berkontribusi pada wacana publik secara independen. PSI tidak bertanggung jawab atas pernyataan pribadi saya,” ujarnya. Ia juga meminta agar kritik selanjutnya tidak dijadikan bahan serangan terhadap partai, mengingat PSI tengah mempersiapkan strategi politik menjelang Pilpres 2029.
Pengunduran diri Ade Armando menandai babak baru bagi PSI, yang kini harus menavigasi dinamika politik internal serta tekanan eksternal dari ormas dan publik. Sementara itu, proses hukum atas laporan 40 ormas masih berjalan, menambah ketegangan di arena politik nasional.











