Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 05 Mei 2026 | Ketika Roberto De Zerbi mengambil alih kemudi Tottenham Hotspur pada pertengahan musim, klub itu berada di zona degradasi dengan moral yang terpuruk setelah gagal memenangkan satu laga Liga Premier dalam 15 kesempatan. Janji awal sang pelatih Italia, yakni menerapkan taktik pragmatis dalam tujuh pertandingan pertama, ternyata bertransformasi menjadi gaya permainan yang lebih dinamis dan menekan tinggi, yang secara cepat mengubah nasib tim.
Dalam empat laga pertama sejak kedatangannya, De Zerbi berhasil mengantarkan tiga poin penting, termasuk kemenangan dramatis 2-1 atas Aston Villa dan kebangkitan menembus zona aman. Meskipun hanya satu gol penentu – penyamaan gol di menit akhir oleh Georginio Rutter melawan Brighton – yang secara langsung menyoroti dampak pressing tinggi, statistik menunjukkan perubahan fundamental dalam cara Spurs merebut bola di zona berbahaya.
Data internal klub mengungkapkan bahwa sejak kedatangan De Zerbi, Tottenham menjadi tim dengan rekor terbaik di seluruh divisi dalam hal memenangkan kembali bola di sepertiga akhir lapangan lawan, dengan rata-rata 5,3 kali per pertandingan. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata sebelum kehadirannya. Meskipun sampel masih kecil, tren ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam intensitas pressing.
- Jumlah tekanan di sepertiga akhir: 5,3 kali per laga (setelah De Zerbi) vs 2,8 kali (sebelum).
- Jarak rata-rata lari menurun sedikit, namun sprint berkurang hampir 10%.
- Posisi penguasaan bola tetap stabil, tetapi kualitas pertahanan meningkat: xG yang kebobolan turun dari 1,52 menjadi 0,79 per pertandingan.
Penurunan xG kebobolan berarti rata‑rata selisih gol Spurs beralih dari –0,49 menjadi angka positif untuk pertama kalinya dalam musim ini. Perubahan ini tidak semata‑mata berasal dari peningkatan tembakan atau xG menyerang, melainkan dari kemampuan tim menjaga pertahanan lebih rapat dan meminimalkan peluang lawan di dekat gawang sendiri.
Conor Gallagher, yang menjadi salah satu gelandang utama di bawah De Zerbi, mengungkapkan bahwa sang manajer berhasil “menyatukan tim” dan menanamkan pemahaman taktik yang jelas. “Roberto memberi kami rasa kepercayaan diri, kami tahu apa yang harus dilakukan dalam setiap fase permainan,” kata Gallagher dalam wawancara singkat. Pernyataan serupa juga terdengar dari pemain muda seperti Archie Gray dan Lucas Bergvall, yang diberikan kesempatan bermain meski masih dalam tahap pembelajaran.
Namun, perjalanan De Zerbi tidaklah mulus. Pada pertandingan perdana melawan Sunderland di Stadium of Light, Spurs menelan kekalahan 1-0 setelah dua pemain muda dipilih untuk mengisi lini tengah. Kritik tajam muncul, termasuk pertanyaan Jamie Carragher tentang kesiapan pemain muda dalam pertempuran relegasi. De Zerbi tetap berpegang pada filosofi memberi peluang kepada talenta muda, sekaligus menyeimbangkan pengalaman dengan energi baru.
Strategi pressing tinggi yang diterapkan De Zerbi bukan sekadar menekan demi menekan. Analisis taktis menunjukkan bahwa tim kini menekan lebih cerdas, mengurangi kebutuhan untuk berlari terus-menerus dan memfokuskan energi pada fase-fase krusial. Hal ini tercermin dalam penurunan sprint dan peningkatan efisiensi dalam merebut bola di zona lawan, yang pada gilirannya mengurangi tekanan pada pertahanan.
Selain aspek taktis, perubahan mentalitas tim menjadi faktor penting. Pemain melaporkan adanya atmosfer kebersamaan yang lebih kuat, didorong oleh pendekatan komunikatif De Zerbi. “Kami merasa satu suara, satu tujuan,” ujar kapten tim, menegaskan bahwa kepemimpinan De Zerbi telah menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif.
Statistik defensif pun mendukung narasi kebangkitan tersebut. Meskipun dua dari empat gol yang kebobolan berasal dari gol spektakuler Kaoru Mitoma dan tendangan panjang Nordi Mukiele, angka kebobolan secara keseluruhan menurun secara signifikan. Tim kini menahan serangan lawan lebih baik, dengan rata‑rata intersepsi dan blok meningkat dalam tiga pertandingan terakhir.
Secara keseluruhan, empat minggu pertama di bawah asuhan Roberto De Zerbi menandai titik balik bagi Tottenham Hotspur. Dengan kombinasi taktik pressing yang terukur, pemberdayaan pemain muda, dan peningkatan mentalitas tim, Spurs kini berada di jalur yang lebih aman untuk mempertahankan tempat di Liga Premier. Meski tantangan masih banyak, perubahan yang terjadi memberi harapan baru bagi pendukung yang telah menunggu sekian lama.











