Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 15 April 2026 | JAKARTA, 14 April 2026 – Redaksi Majalah Tempo mengeluarkan pernyataan resmi pada Selasa sore yang menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, serta seluruh kader partai atas ilustrasi dan judul sampul edisi 13‑19 April 2026 yang dianggap menyinggung martabat tokoh politik tersebut. Permintaan maaf tersebut disampaikan oleh Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Setri Yasra, dalam konferensi pers singkat di kantor utama Tempo, Jalan Palmerah Barat, Kebayoran Lama. Setri menegaskan bahwa laporan utama telah melewati tahapan verifikasi jurnalistik sesuai Kode Etik Jurnalistik, namun ia membuka ruang klarifikasi bagi pihak NasDem melalui Dewan Pers sebagaimana diatur Undang‑Undang Pers No 40/1999.
Reaksi NasDem tidak memerlukan waktu lama. Ratusan kader partai, dipimpin Wakil Ketua Umum Partai NasDem Saan Mustopa dan Ketua DPW DKI Jakarta Wibi Andrino, turun ke kantor Tempo pada sore yang sama untuk menuntut permohonan maaf secara langsung dan menuntut publikasi permintaan maaf tersebut di media resmi Tempo. Demonstrasi yang diwarnai seragam biru dongker itu menyoroti rasa sakit hati yang dirasakan oleh kader partai, sekaligus menekankan pentingnya etika dalam penyajian visual politik. Menurut Saan Mustopa, kritik terhadap tokoh publik memang wajar, namun harus disampaikan tanpa merendahkan, agar demokrasi tetap sehat.
Jajang Jamaludin, Head of Corporate Secretary Tempo, menanggapi aksi massa dengan menyampaikan permohonan maaf secara pribadi kepada perwakilan NasDem yang hadir. “Jika pemberitaan ini menimbulkan rasa tidak nyaman, kami meminta maaf. Dampak emosional kadang sulit kami kendalikan,” ujarnya. Setri menambahkan bahwa ilustrasi pada sampul dimaksudkan sebagai pendekatan editorial untuk menggambarkan dinamika politik yang sedang berkembang, khususnya wacana potensi penggabungan Partai Gerindra dan Partai NasDem yang melibatkan Prabowo Subianto dan Surya Paloh. Ia menolak tudingan bahwa Tempo berniat merendahkan, melainkan ingin menyoroti kekhawatiran atas perubahan arah partai.
NasDem, melalui pernyataan resmi, menuntut tiga hal utama: (1) publikasi permintaan maaf secara terbuka di seluruh edisi digital dan cetak Tempo dalam waktu 24 jam; (2) komitmen redaksi untuk memperketat prosedur editorial, khususnya dalam penggunaan karikatur atau ilustrasi yang bersifat sensitif; serta (3) penyelesaian sengketa melalui mekanisme Dewan Pers, bukan melalui aksi massa. Daftar tuntutan tersebut disampaikan dalam bentuk poin pada saat konferensi pers, sebagai upaya menghindari eskalasi konflik yang dapat merusak citra kedua institusi.
Pengamat media, Dr. Amir Faisol, mencatat bahwa kasus ini mencerminkan ketegangan klasik antara kebebasan pers dan tanggung jawab sosial media massa. “Majalah Tempo memiliki reputasi kuat dalam jurnalisme investigatif, namun penggunaan visual provokatif harus selalu diimbangi dengan sensitivitas politik,” kata Faisol. Ia menambahkan bahwa langkah permintaan maaf yang cepat dan terbuka dapat menjadi contoh penanganan krisis media yang konstruktif, asalkan diikuti dengan revisi kebijakan internal yang nyata.
Sejauh ini, Tempo belum mengumumkan perubahan konkret pada proses editorial, namun menyatakan akan mengadakan lokakarya internal bersama Dewan Pers dan perwakilan NasDem dalam minggu mendatang. Sementara itu, massa NasDem yang mengunjungi kantor redaksi melaporkan bahwa pintu masuk sebagian besar tertutup karena kepadatan demonstran, menandakan intensitas protes yang masih tinggi. Kedua belah pihak tampaknya berada pada titik temu untuk menyelesaikan sengketa ini secara damai, dengan harapan media tetap menjadi pilar demokrasi yang menghormati integritas tokoh publik tanpa mengorbankan kebebasan melaporkan.











