Religi

Perjuangan Pasutri Pedagang Sayur Cirebon Menabung Rp10 Ribu Sehari Selama 14 Tahun demi Naik Haji

×

Perjuangan Pasutri Pedagang Sayur Cirebon Menabung Rp10 Ribu Sehari Selama 14 Tahun demi Naik Haji

Share this article
Perjuangan Pasutri Pedagang Sayur Cirebon Menabung Rp10 Ribu Sehari Selama 14 Tahun demi Naik Haji
Perjuangan Pasutri Pedagang Sayur Cirebon Menabung Rp10 Ribu Sehari Selama 14 Tahun demi Naik Haji

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 27 April 2026 | Pasangan suami istri asal Cirebon, Hasanudin Masngad Sarti (61) dan Kudaedah Abdul Hayi (60), menjadi sorotan nasional setelah berhasil menunaikan ibadah naik haji pada 2026. Kisah mereka bermula dari kehidupan sederhana sebagai pedagang sayur di pasar Japura, Cirebon, namun tekad untuk menunaikan rukun Islam kelima membuat mereka menabung secara konsisten selama lebih dari satu dekade.

Hasanudin mengisahkan masa mudanya ketika merantau ke Jakarta untuk menjual asinan buah‑buah seperti mangga, kedondong, dan jambu. Penghasilannya sangat tidak menentu, kadang hanya ratusan ribu rupiah dalam sebulan. “Saat itu penghasilan tidak tentu, kadang Rp 100.000, kadang Rp 50.000,” ujarnya. Meski begitu, ia tetap menyisihkan sebagian kecil pendapatan untuk tabungan haji, sebuah kebiasaan yang kemudian ia bawa pulang ke kampung halaman pada tahun 2010.

📖 Baca juga:
Jadwal Magrib Surabaya 15 April 2026: Waktu Tepat Ibadah di Bawah Langit Jawa Timur

Setelah kembali ke Cirebon, Hasanudin beralih berjualan sayur‑sayuran: cabai, bawang, kol, tomat, kacang panjang, dan lain‑lain. Pendapatan harian dari usaha ini biasanya berkisar antara Rp 200.000 hingga Rp 300.000, namun setelah dipotong kebutuhan keluarga dan biaya hidup, sisa bersih yang dapat ditabung hanya sekitar Rp 60.000‑Rp 70.000. Kudaedah menambahkan bahwa pada hari‑hari yang penjualan melimpah, mereka bahkan dapat menabung hingga Rp 50.000. Berikut adalah contoh pola menabung harian mereka:

  • Hari biasa: Rp 10.000‑Rp 20.000
  • Hari pasar ramai: Rp 30.000‑Rp 50.000
  • Setelah kemenangan arisan: seluruh kemenangan langsung ditabung ke bank

Keluarga pasangan ini membesarkan tujuh orang anak sekaligus mengurus orang tua yang masih hidup. Kendati beban ekonomi berat, mereka tidak mengurangi alokasi untuk tabungan haji. “Kalau tidak menabung, nanti tidak mampu lunas biaya pendaftaran haji yang mencapai Rp 25,5 juta,” kata Kudaedah.

📖 Baca juga:
Kain Putih Melilit Ka’bah: Tanda Musim Haji 2026 Resmi Dimulai dan Persiapan Makkah-Madinah Menyambut Jemaah

Selama 14 tahun, total tabungan mereka bertambah secara perlahan namun pasti. Berikut rangkuman estimasi tabungan per tahun:

Tahun Total Tabungan (Rp)
2012 15.000.000
2015 30.000.000
2018 55.000.000
2021 80.000.000
2024 105.000.000

Angka‑angka tersebut memungkinkan pasangan ini mendaftar dalam Kloter KJT 05, yang diberangkatkan lewat Bandara Internasional Kertajati. Pada 25 April 2026, keduanya terlihat haru di Bandara Prince Mohammed Bin Abdulaziz, Madinah, bersama rombongan haji. “Kami berharap ibadah ini diterima Allah SWT dan dapat mendoakan anak‑anak serta orang tua kami dari Tanah Suci,” ujar Kudaedah dengan mata berkaca‑kaca.

📖 Baca juga:
Dukungan Kuat PP PMKRI pada Paus Leo XIV: Seruan Pemimpin Global Bijak Menghadapi Tantangan Dunia

Kisah Hasanudin dan Kudaedah tidak hanya menjadi inspirasi bagi para pedagang kecil, melainkan juga bukti nyata bahwa disiplin menabung, meski dalam jumlah kecil, dapat mewujudkan impian besar. Dengan sabar menunggu selama 14 tahun, mereka berhasil menunaikan panggilan spiritual yang selama ini hanya dapat mereka impikan. Pengalaman mereka mengajarkan bahwa konsistensi, pengorbanan, dan kepercayaan pada Allah mampu mengatasi segala keterbatasan ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *