Ekonomi

Bunga Kredit Bank Terlambat Turun Meski BI Rate Dipangkas, Apa Penyebabnya?

×

Bunga Kredit Bank Terlambat Turun Meski BI Rate Dipangkas, Apa Penyebabnya?

Share this article
Bunga Kredit Bank Terlambat Turun Meski BI Rate Dipangkas, Apa Penyebabnya?
Bunga Kredit Bank Terlambat Turun Meski BI Rate Dipangkas, Apa Penyebabnya?

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 25 April 2026 | Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) yang signifikan selama tahun 2025 belum diikuti oleh penurunan tajam pada tingkat bunga kredit perbankan. Data Bank Indonesia mencatat rata-rata bunga kredit pada Maret 2026 berada di 8,76%, hanya menurun tipis dari 8,80% pada Februari. Sementara itu, BI rate sendiri telah dipangkas total 1,25 poin persentase sejak Januari 2025, menimbulkan kesenjangan antara kebijakan moneter dan biaya kredit yang dirasakan nasabah.

Fenomena ini menandakan adanya lag transmisi kebijakan moneter. Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menjelaskan bahwa penurunan bunga kredit biasanya mengalami jeda karena bank harus menyesuaikan biaya pendanaan internal serta menilai risiko gagal bayar yang masih tinggi. “Jika risiko gagal bayar dinilai masih tinggi, bank cenderung mempertahankan premi risiko pada level tinggi,” ujarnya pada konferensi pers 23 April 2026.

📖 Baca juga:
Bitcoin Meroket Melewati $78.000 Saat Iran Buka Selat Hormuz: Dampak Geopolitik pada Aset Safe Haven

Berbagai faktor memperlambat penurunan bunga kredit:

  • Risiko kredit: Sektor UMKM dan kredit konsumsi masih dianggap berisiko, sehingga bank menahan penurunan suku bunga untuk melindungi kualitas portofolio.
  • Biaya dana: Tingginya biaya dana, terutama dari deposan besar dengan special rate, memaksa bank menjaga margin keuntungan.
  • Biaya operasional: Pengeluaran operasional perbankan tetap tinggi, menambah beban yang harus ditutupi oleh margin kredit.

Bank-bank besar pun mengakui tantangan ini. EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Haryn, menyebut bahwa selain BI rate, bank memperhitungkan likuiditas, kondisi makroekonomi, serta dinamika penawaran dan permintaan kredit. Suku bunga dasar kredit (SBDK) BCA pada Maret 2026 berada di kisaran 6,85%–8,89%, turun dibandingkan tahun sebelumnya, namun pertumbuhan kredit tetap hanya 5,6%.

KB Bank juga melaporkan penurunan SBDK menjadi 9,17%–9,72% pada April 2026, tipis dibandingkan kisaran 9,5%–10% sebelumnya. Presiden Direktur KB Bank, Kunardy Darma Lie, menegaskan bahwa penurunan lebih lanjut akan bergantung pada biaya dana yang masih mahal.

📖 Baca juga:
Harga BBM Nonsubsidi Naik Tajam: Dampak pada Konsumen dan Ekonomi Indonesia

Allo Bank mengadopsi pendekatan bertahap dalam menurunkan pricing kredit sejak tahun lalu. Namun, dominasi dana mahal dan profil risiko tinggi pada kredit ritel digital membatasi ruang gerak penurunan suku bunga. Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo, menekankan bahwa risk premium tetap besar dalam penentuan harga kredit.

Akibat lambatnya penurunan bunga, permintaan kredit korporasi mengalami penundaan ekspansi. Banyak perusahaan memilih menunda proyek atau mencari alternatif pembiayaan non-bank. Sektor ritel dan konsumsi juga merasakan tekanan, karena kredit konsumsi masih berada pada level yang relatif tinggi.

Para pengamat memperkirakan bahwa penurunan bunga kredit akan tetap gradual hingga akhir 2026, kecuali terjadi perbaikan signifikan pada biaya dana dan penurunan risiko kredit. Jika bank tidak dapat menurunkan biaya dana, transmisi pelonggaran moneter ke sektor riil dapat tetap terhambat, berpotensi menahan pertumbuhan kredit secara keseluruhan.

📖 Baca juga:
CoinMarketCap Jadi Sorotan Utama: Listing Pepeto, Prediksi Harga Cardano, dan Langkah Sberbank di Pasar Kripto

Secara keseluruhan, meskipun BI rate telah berada di level terendah, bank-bank Indonesia masih mengedepankan prudensi dalam menurunkan suku bunga kredit. Kebijakan moneter yang longgar belum sepenuhnya terasa oleh pelaku ekonomi riil, menandakan perlunya koordinasi lebih erat antara otoritas moneter dan lembaga keuangan untuk mengurangi lag transmisi kebijakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *