Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 01 Juli 2026 | Libur sekolah yang diikuti penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa dampak yang cukup terasa di Pasar Wage Purwokerto. Harga berbagai kebutuhan pokok pun kompak mengalami penurunan karena permintaan menurun di tengah stok yang melimpah. Sayuran anjlok hingga 50 persen, sementara harga ayam potong turun menjadi Rp32 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp36 ribu per kilogram.
Di sisi lain, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen negatif dibandingkan kondisi fundamental ekonomi. Menurutnya, berbagai indikator makro menunjukkan perekonomian nasional berada dalam kondisi yang baik, namun persepsi pasar belum sejalan dengan realitas tersebut.
Misbakhun mengatakan bahwa Indonesia memiliki sejumlah indikator ekonomi yang layak menjadi modal untuk membangun kepercayaan investor. Pertumbuhan ekonomi kuartal I mencapai 5,61 persen, inflasi tetap terkendali, neraca pembayaran mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut, serta cadangan devisa berada pada level yang mampu membiayai impor sekitar enam bulan.
Namun, di tengah kondisi tersebut, pasar keuangan justru menghadapi tekanan. Misbakhun menyebut pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan IHSG menunjukkan adanya pertarungan antara fundamental ekonomi dengan sentimen pasar. Ia menilai tekanan terhadap pasar modal bukan dipicu persoalan struktural dalam perekonomian nasional, melainkan lebih disebabkan faktor sentimen yang memengaruhi persepsi investor.
Sementara itu, bursa saham Asia Pasifik dibuka beragam pada perdagangan Rabu. Indeks Nikkei 225 di Jepang dan Indeks Kospi di Korea Selatan catat kenaikan 1%. Sementara itu, wall street menguat waktu setempat. Mengutip CNBC, indeks Nikkei 225 di Jepang menguat 1,79%. Sementara itu, indeks Topix bertambah 1,07%.
Kesimpulan dari fenomena anjloknya harga pangan dan IHSG ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki dua wajah yang berbeda. Di satu sisi, kondisi fundamental ekonomi yang kuat belum mampu mendorong kepercayaan investor, sementara di sisi lain, sentimen negatif masih memengaruhi persepsi pasar. Oleh karena itu, perlu upaya untuk memperbaiki persepsi investor dan meningkatkan kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia.











