Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 20 April 2026 | Blokade AS di Selat Hormuz kembali memanas usai Iran menutup kembali jalur strategis tersebut, menambah tekanan pada kapal-kapal tanker yang melintasi wilayah penting bagi perdagangan energi dunia.
Pada Senin (20/4/2026), pernyataan resmi Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan bahwa setiap kapal yang mencoba melewati selat akan menjadi sasaran. Keputusan ini muncul kurang dari 24 jam setelah Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz sebagai respons terhadap gencatan senjata antara Washington dan Teheran.
Jenderal Dan Caine, Kepala Staf Gabungan Angkatan Laut Amerika Serikat, mengonfirmasi rencana operasional untuk \”memburu\” kapal tanker Iran di wilayah dekat Indonesia, khususnya di Selat Malaka. Menurut laporan Lloyd’s List, kawasan ini menjadi rumah bagi sejumlah tanker \”gelap\” yang mengangkut minyak ilegal, sehingga AS menilai tindakan pencegahan diperlukan.
Di tengah ketegangan, dua tanker milik PT Pertamina International Shipping—Pertamina Pride dan Gamsunoro—masih terperangkap di Teluk Arab. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Yvonne Mewengkang, menegaskan bahwa keselamatan awak kapal dan keamanan muatan menjadi prioritas utama pemerintah. Koordinasi intensif terus dilakukan antara KBRI Tehran, otoritas maritim Iran, dan pihak Pertamina untuk mencari solusi teknis yang memungkinkan kapal tersebut melintasi selat kembali.
Sementara itu, kapal tanker milik perusahaan China menjadi sorotan internasional karena berhasil menembus blokade pertama kali. Menurut sumber militer AS, kapal tersebut dilengkapi dengan sistem navigasi canggih dan memperoleh izin khusus setelah melalui negosiasi diplomatik yang melibatkan kedutaan China di Teheran. Keberhasilan ini menimbulkan spekulasi bahwa Beijing mungkin berupaya memperkuat posisinya dalam dinamika geopolitik Laut Persia.
Reaksi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan komitmen Washington untuk melanjutkan blokade pelabuhan Iran sampai \”transaksi\” terkait program nuklir selesai. Ia menambahkan bahwa langkah tersebut tidak akan menghalangi kapal non‑Iran yang mematuhi aturan internasional.
Para pengamat menilai bahwa taktik \”buka‑tutup\” Selat Hormuz yang dilakukan Iran merupakan upaya mendapatkan leverage dalam negosiasi dengan AS. Zhang Chuchu, wakil direktur Pusat Studi Timur Tengah di Universitas Fudan, menyebut langkah tersebut sebagai \”proses tawar‑menawar geopolitik\”. Niu Xinchun, dari Institut Penelitian China‑Arab, menilai blokade AS memberi justifikasi bagi Iran untuk menutup kembali selat, sekaligus menyoroti peran strategis China yang kini mampu menembus hambatan tersebut.
Ketegangan ini juga berdampak pada harga minyak mentah dunia. Setelah pengumuman pembukaan kembali Selat Hormuz pada 17 April, harga minyak turun sekitar 10 persen, namun segera naik kembali ketika Iran menutup jalur tersebut pada 18 April. Fluktuasi ini menambah beban pada pasar energi yang sudah tertekan oleh konflik di Ukraina dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Sejumlah negara sekutu AS, termasuk Inggris dan Jepang, mengawasi perkembangan ini dengan cermat. Mereka menekankan pentingnya kebebasan navigasi di Selat Hormuz, yang menyumbang sekitar 20 persen pengiriman minyak global setiap harinya.
Ke depannya, para pejabat menilai bahwa dialog diplomatik antara Washington dan Teheran akan menjadi faktor penentu. Jika gencatan senjata yang sedang berlangsung berakhir, kemungkinan penutupan selat kembali akan meningkat, mengancam pasokan energi global dan memperpanjang konflik maritim di kawasan strategis ini.
Dengan demikian, blokade AS di Selat Hormuz tidak hanya menahan kapal tanker Iran, tetapi juga membuka peluang bagi negara lain seperti China untuk memperlihatkan kemampuan navigasinya. Situasi ini menuntut koordinasi multinasional yang intensif serta upaya diplomatik yang berkelanjutan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.











