Ekonomi

Chatib Basri: Pemerintah Tak Akan Kurangi Program Perlindungan Sosial

×

Chatib Basri: Pemerintah Tak Akan Kurangi Program Perlindungan Sosial

Share this article
Chatib Basri: Pemerintah Tak Akan Kurangi Program Perlindungan Sosial
Chatib Basri: Pemerintah Tak Akan Kurangi Program Perlindungan Sosial

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 11 Juni 2026 | Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan bahwa skema manfaat bantuan sosial (bansos) yang sedang disempurnakan pemerintah tidak akan mengurangi program perlindungan sosial (perlinsos) yang sudah berjalan. Hal ini disampaikan setelah pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Merdeka, Jakarta.

Menurut Jodi Mahardi, Juru Bicara Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI, fokus utama pemerintah saat ini adalah membangun sistem perlinsos yang lebih terintegrasi dengan memanfaatkan teknologi digital. Transformasi tata kelola ini dirancang agar penyaluran berbagai program bantuan dan subsidi dapat dilakukan secara lebih presisi, efisien, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat yang berhak.

📖 Baca juga:
Indonesia Siapkan Pasokan Minyak Murah dari Rusia, Bahlil Janji Harga Kompetitif

Chatib Basri, Anggota DEN, juga membahas tentang kekayaannya dan perannya sebagai Menteri Keuangan era SBY. Ia juga membahas tentang pentingnya strategi ekspansi cerdas dan kecepatan eksekusi sebagai kunci daya saing dalam bisnis.

Di sisi lain, Asrul Sani, paman dari Chatib Basri, dikenal sebagai sosok intelektual multitalenta dan merupakan salah satu pilar utama Angkatan ’45. Ia memiliki sejumlah karya sastra yang diakui secara kritis, seperti kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir dan kumpulan cerpen Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat.

📖 Baca juga:
CEO Strategy Ungkap Kondisi Penjualan BTC dan Dampaknya pada Pasar

Grab Business Forum 2026 juga membahas tentang pentingnya strategi ekspansi cerdas dan kecepatan eksekusi sebagai kunci daya saing dalam bisnis. Chatib Basri membahas tentang dinamika ekonomi global dan implikasinya terhadap strategi pertumbuhan korporasi.

Menurut Chatib Basri, perbedaan mendasar antara kondisi ekonomi saat ini dan krisis 1998 terletak pada kesiapan pelaku usaha dan nilai tukar kini lebih siap menghadapi gejolak eksternal. Ia menilai kelompok masyarakat menengah atas serta korporasi besar saat ini jauh lebih antisipatif terhadap risiko depresiasi Rupiah.

📖 Baca juga:
Rupiah Terpuruk di Rekor Terendah: Apa Penyebabnya dan Prospek Masa Depan?

Kesimpulan dari berbagai pembahasan tersebut adalah bahwa pemerintah tidak akan mengurangi program perlindungan sosial yang sudah berjalan, dan strategi ekspansi cerdas dan kecepatan eksekusi merupakan kunci daya saing dalam bisnis. Selain itu, kesiapan pelaku usaha dan nilai tukar kini lebih siap menghadapi gejolak eksternal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *