Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 02 Juni 2026 | Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingati bulan pertama dalam kalender Hijriah, yaitu Muharram, sekaligus sebagai tahun Baru Islam. Di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, bulan ini lebih akrab dengan sebutan Bulan Suro. Lantas, Muharram apakah bulan Suro? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita mesti memahami Muharram dan kedudukannya dalam Islam, sekaligus mengetahui Suro dalam perspektif tradisi (urf).
Dari pengertian keduanya dan proses sinkretis, terdapat benang merah yang menghubungkan keduanya. Namun begitu, di sisi lain, terdapat berbagai tradisi lolak yang tidak sesuai dengan syariat. Muharram sebagai bulan suci memiliki akulturasi sehingga menjadi ‘Suro’ dalam tradisi Jawa dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Salah satu contoh akulturasi ini dapat dilihat dari kirab 1 Suro di Keraton Surakarta. Tradisi ini merupakan perpaduan antara tradisi Islam dan tradisi Jawa, yang menunjukkan bagaimana kedua budaya ini dapat berbaur dan membentuk identitas baru.
Di samping itu, terdapat juga upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Indonesia, salah satunya melalui pengembangan jurnal-jurnal ilmiah. UIN Walisongo Semarang, misalnya, telah berhasil menerbitkan jurnal Al-Ahkam yang terindeks Scopus, menunjukkan kemajuan dalam bidang pendidikan Islam.
Jurnal-jurnal seperti ini tidak hanya membantu meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga membuka peluang bagi para peneliti dan akademisi untuk mempublikasikan karya mereka dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan.
Kesimpulan dari semua ini adalah bahwa Muharram dan Bulan Suro memiliki kaitan yang erat, baik dalam perspektif Islam maupun tradisi Jawa. Dengan memahami dan menghargai kedua aspek ini, kita dapat lebih dalam memahami kebudayaan dan keagamaan di Indonesia.











