Ekonomi

Rupiah Melemah, Apa yang Harus Dilakukan?

×

Rupiah Melemah, Apa yang Harus Dilakukan?

Share this article
Rupiah Melemah, Apa yang Harus Dilakukan?
Rupiah Melemah, Apa yang Harus Dilakukan?

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 24 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah terus melemah dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan dinamika geopolitik global. Menurut Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan BI, tetapi juga oleh faktor-faktor eksternal lainnya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah adalah kenaikan US Treasury yield yang mencapai 4,5 hingga 4,6 persen. Hal ini mendorong banyak pihak untuk menjual obligasinya dan memasukkan uangnya kembali ke AS. Selain itu, harga minyak yang meningkat juga menjadi faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah.

📖 Baca juga:
Harga Emas Antam Turun Drastis pada 17 April 2026: Catat Pergerakan Harga, Buyback, dan Pajak

Ekonom Wijayanto Samirin mengingatkan pemerintah agar tidak menyangkal pelemahan rupiah dan belajar dari krisis 1998. Ia menilai bahwa kebijakan stabilisasi kurs seperti kenaikan suku bunga dan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hanya meredam gejala sementara tanpa menyentuh akar masalah ekonomi.

Wijayanto juga menyarankan pemerintah untuk menyusun regulasi dan perencanaan kebijakan secara matang agar tidak menciptakan ketidakpastian yang dapat merugikan stabilitas ekonomi dan kepercayaan pelaku usaha. Ia menilai bahwa pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai badan ekspor satu pintu berpotensi menimbulkan ketidakpastian dalam jangka pendek.

📖 Baca juga:
Sumur Gas Raksasa di Blok Ganal Dorong Produksi Nasional Hingga 3.000 MMSCFD, Janjikan Ketahanan Energi Indonesia

Rupiah diproyeksikan tetap bergerak di kisaran Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai bahwa rupiah diperkirakan tetap bergerak di kisaran Rp 17.000 per dolar AS. Meski demikian, ia berharap nilai tukar masih dapat terjaga di bawah Rp 17.500 per dolar AS agar tidak memicu ekspektasi negatif di pasar.

Kesimpulan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan moneter BI dan dinamika geopolitik global. Pemerintah perlu menyusun regulasi dan perencanaan kebijakan secara matang agar tidak menciptakan ketidakpastian yang dapat merugikan stabilitas ekonomi dan kepercayaan pelaku usaha. Rupiah diproyeksikan tetap bergerak di kisaran Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

📖 Baca juga:
Prabowo Subianto: Membangun Kemandirian Ekonomi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *