Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 23 Mei 2026 | Gempa bumi bermagnitudo 5,9 mengguncang wilayah Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Jumat (22/5/2026) pukul 09.05 Wita. Guncangan kuat membuat pengunjung Hotel Sutanraja Maumbi berhamburan keluar bangunan.
Pantauan Liputan6.com, sejumlah warga terlihat berlari menuruni tangga hotel, sementara lainnya meninggalkan sarapan pagi dan menuju area terbuka di depan hotel. “Saya terpaksa meninggalkan sarapan pagi dan langsung lari keluar hotel,” ujar salah satu pengunjung.
Sekitar lima menit berada di luar gedung, para pengunjung kembali masuk setelah situasi dinilai aman dan kondusif. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa terjadi pada pukul 09.05.09 Wita di wilayah Laut Maluku.
Gempa tersebut merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas deformasi batuan di Lempeng Laut Maluku. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 1,17° LU dan 126,14° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 117 kilometer arah tenggara Kota Bitung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 38 kilometer.
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa struktur patahan gempa memiliki mekanisme pergerakan geser naik (oblique thrust). Berdasarkan laporan tingkat guncangan, dampak gempa bumi ini dirasakan nyata di daerah Pulau Batang Dua dengan skala intensitas III-IV MMI, di mana pada siang hari getaran dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah.
Guncangan juga meluas hingga ke daerah Sofifi, Halmahera Barat, Tidore, dan Kota Manado dengan skala intensitas II-III MMI, berupa getaran yang dirasakan nyata di dalam rumah seakan-akan ada truk besar yang sedang berlalu.
Setidaknya pada pukul 08.20 WIB, hasil monitoring yang dilakukan oleh sistem BMKG belum menunjukkan adanya tanda-tanda aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) Kendati demikian, BMKG tetap mengimbau masyarakat di wilayah sekitar untuk tetap tenang dan menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh guncangan, serta tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Sementara itu, dalam rangkaian Peringatan 20 Tahun Gempa Bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah, Emergency Disaster Reduction and Rescue (EDRR) Indonesia menerima penghargaan atas dukungannya terhadap program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Penghargaan diberikan dalam kegiatan di SMAN 1 Kalasan, Kabupaten Sleman, yang menjadi agenda awal peringatan tersebut.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh bersama dan itu menghadirkan edukasi mitigasi bencana bagi peserta. Materi yang diberikan meliputi potensi ancaman gempa bumi, prosedur penyelamatan dan evakuasi, sistem pelaporan melalui aplikasi Jogja Digdaya, hingga simulasi kebencanaan.
Penghargaan diberikan kepada sejumlah pihak yang dinilai berkomitmen dalam pelaksanaan program strategis SPAB di Daerah Istimewa Yogyakarta, di antaranya Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, BPBD DIY, dan EDRR Indonesia.
Country Director for Government Relations EDRR Indonesia, mengatakan penghargaan tersebut menjadi pengingat pentingnya membangun budaya keselamatan sejak di lingkungan sekolah. “Penghargaan ini kami terima sebagai pengingat bahwa keselamatan harus dimulai dari ruang kelas. EDRR Indonesia memandang Satuan Pendidikan Aman Bencana bukan sekadar program, melainkan investasi jangka panjang,” ujar Rakyan.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan Pasar Penyintas di Lapangan Garuda, kawasan Pasar Penyintas menghadirkan 44 pelaku UMKM penyintas Gempa Yogyakarta 2006 sebagai bagian dari upaya mendukung pemulihan ekonomi dan memperkuat ketangguhan masyarakat pascabencana.
Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, mengatakan peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah menjadi momentum untuk memperkuat memori kolektif masyarakat terhadap pentingnya kesiapsiagaan bencana melalui kolaborasi lintas sektor.
Rakyan menambahkan, keterlibatan EDRR Indonesia dalam peringatan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan perusahaan terhadap penanggulangan bencana di Tanah Air. “Semangat ini akan kami lanjutkan melalui EDRR Indonesia 2026, pameran teknologi mitigasi bencana terbesar di Asia Tenggara, yang berlangsung pada 12 hingga 14 Agustus 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Kami mengajak pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadikan peringatan ini sebagai titik tolak budaya tangguh bencana yang nyata,” tutup Rakyan.
Kesimpulan, gempa bumi yang terjadi di Minahasa Utara dan peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah menjadi peringatan penting bagi masyarakat untuk selalu waspada dan siap menghadapi bencana alam. Dengan memahami potensi ancaman gempa bumi dan melakukan edukasi mitigasi bencana, diharapkan masyarakat dapat lebih siap dan tangguh dalam menghadapi bencana alam.











