Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 14 April 2026 | Jakarta, 12 April 2026 – Kreator konten YouTuber Steven Wongso kembali menjadi sorotan publik setelah mengunggah video edukasi tentang bahaya konsumsi martabak manis. Dalam klip berdurasi tiga menit, Wongso menyoroti kadar gula tinggi pada adonan martabak yang ia klaim dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit kardiovaskular. Pernyataannya yang tajam, termasuk menyamakan penjual martabak dengan penjual narkoba, memicu gelombang hujatan dari para netizen dan pedagang kuliner tradisional.
Reaksi keras tidak berhenti pada kritik publik. Dokter spesialis kardiologi sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, membalas melalui unggahan di platform X. Ia menyinggung kembali sejarah pribadi Wongso yang pernah mengakui penggunaan steroid anabolik untuk menambah massa otot. Dr. Adam menambahkan data terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Circulation pada tahun 2025, yang mengungkap peningkatan risiko serangan jantung sebesar 300 persen dan gangguan irama jantung hingga 226 persen pada pengguna steroid anabolik selama 11 tahun.
Berikut rangkuman temuan penting dari studi tersebut:
- Penggunaan steroid anabolik meningkatkan risiko serangan jantung 3 kali lipat dibandingkan non‑pengguna.
- Gangguan irama jantung (arrhythmia) naik lebih dari dua kali lipat, berpotensi menyebabkan henti jantung mendadak.
- Risiko kematian terkait kardiovaskular pada pengguna jangka panjang mencapai 12,5 persen.
Balasan dr. Adam tidak hanya menyoroti data medis, melainkan juga menyindir logika Wongso yang mengkritik gula sambil mengabaikan dampak penggunaan steroid pada tubuhnya. “Izin mengingatkan juga mengenai efek bahaya dari steroid anabolik untuk membesarkan otot,” tulis dr. Adam, menambahkan bahwa edukasi kesehatan seharusnya bersifat konsisten dan tidak pilih kasih.
Netizen pun bersuara. Sebuah komentar yang ramai diikuti oleh ribuan like menulis, “Disuruh batasin gula sama orang yang pake steroid wkwkwk,” menggambarkan persepsi publik bahwa kritik Wongso terkesan hipokrit. Beberapa pengguna media sosial menilai bahwa edukasi tentang gula memang penting, namun harus disampaikan dengan cara yang tidak menjelekkan pelaku usaha kecil.
Para pedagang martabak menanggapi isu ini dengan kekhawatiran. Sejumlah penjual mengklaim mereka sudah mulai menurunkan kadar gula dalam resep, menyesuaikan selera konsumen yang semakin sadar kesehatan. Namun, mereka menolak analogi Wongso yang menyamakan mereka dengan penjual narkoba, menilai perbandingan tersebut merusak reputasi usaha kuliner tradisional.
Di sisi lain, komunitas kebugaran menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam kesehatan. Mereka menekankan bahwa mengonsumsi makanan tinggi gula secara berlebihan serta penggunaan steroid anabolik keduanya memiliki konsekuensi serius. Sebuah grup kebugaran di Jakarta mengadakan webinar yang membahas cara mengontrol asupan gula sekaligus menolak penggunaan zat terlarang untuk mempercepat pertumbuhan otot.
Kasus ini mencerminkan dinamika perdebatan kesehatan di era digital, di mana influencer, profesional medis, dan masyarakat umum bersaing untuk menentukan narasi yang paling berpengaruh. Sementara edukasi gizi tetap krusial, cara penyampaiannya harus mempertimbangkan sensitivitas budaya dan ekonomi, terutama bagi para penjual makanan tradisional.
Ke depannya, para pakar kesehatan diharapkan dapat berkolaborasi dengan pelaku usaha kuliner untuk menciptakan standar nutrisi yang realistis tanpa menimbulkan stigma. Begitu pula, influencer seperti Steven Wongso perlu mengedepankan tanggung jawab sosial dengan menyajikan data yang akurat dan menghindari pernyataan yang dapat menyinggung kelompok tertentu.
Kesimpulannya, kontroversi antara edukasi bahaya gula pada martabak manis dan kritik balik terkait penggunaan steroid anabolik menegaskan bahwa kesehatan publik tidak dapat dipisahkan dari kejujuran informasi dan rasa hormat terhadap semua pemangku kepentingan.











